-
Gizi is easy
Gizi itu gampang, percaya nggak? Disini akan dibahas segala seluk-beluk tentang gizi; bahwa gizi itu mudah, gizi itu penting; semua mesti tau dan semua pasti bisa. -
Blog Stats
- 36,872 hits
-
Latest News
-
Top News
-
New Comments
Archives
- July 2008 (5)
- June 2008 (9)
- May 2008 (8)
- April 2008 (6)
- March 2008 (9)
- February 2008 (7)
- January 2008 (1)
- November 2007 (2)
- October 2007 (3)
- September 2007 (8)
- August 2007 (10)
- July 2007 (2)
- June 2007 (10)
- May 2007 (8)
Category Archives: Life oh life!
Saat ini saya mengikuti program profesi Gizi bersama dengan rekan-rekan ekstensi S1 Gizi. Mostly mereka sudah bekerja dan berkeluarga. Seneng banget bisa satu angkatan dengan mereka. Ada yang bekerja di Dinkes, ahli gizi ruangan, kepala instalasi gizi, dll. Saya bisa menyedot ilmu dari pengalaman bekerja mereka. Termasuk juga pengalaman hidup. Tapi kadang juga sih, jadi tahu obrolan dewasa, hehehe.
Jadi ceritanya begini: pada suatu siang, saya dan teman-teman sedang berkumpul di aula rumah sakit. Trus, dua orang rekan bercanda mengenai jari-jari tangan.
“Hayo, coba gini-kan tanganmu!” kata salah satunya sambil menunjukkan telapak tangan menghadap ke arah lawan bicara dan jari-jarinya dirapatkan.
“Oh, kamu anaknya sedikit! Hwahahaha!”
Panggil ‘Mas’ atau ‘Pak’? Panggil ‘Mbak’ atau ‘Bu’?
Dilema seperti ini sering saya alami.
Dulu, ketika saya masih kecil, semua orang besar saya panggil ‘Pak’ dan ‘Bu’. Sampai ketika saya telah lulus SMU dan pindah ke Jogja, saya ditegur ayah saya, “masih muda kok, panggil aja ‘Mbak’,” begitu kata beliau. Saat itu saya mulai menyadari, “oh iya ya, saya sudah besar”. Satu pelajaran sudah saya kuasai. Saya sudah bisa memilah, mana yang akan dipanggil “Mbak”, dan mana yang “Ibu”.
Merasa ’sudah besar’, saya kemudian menggunakan kata ‘mas’ untuk mas-mas yang jual mie ayam, kernet bus, dll. Hanya saja, terkadang supir bus yang akan kita minta untuk menurunkan kita di tepi jalan menghadap ke depan (pastinya, bukan terkadang lagi), membelakangi kita. Sehingga saya suka merasa bersalah ketika menoleh, ternyata orang yang saya panggil itu ternyata sudah tua. Malah mungkin seumuran ayah saya. “Geblek! Masa dipanggil Mas!” Maka mulai saat itu, saya menerapakan aturan khusus. The Rule is, kalau ia sudah beruban, tidak peduli sedikit atau banyak, ia harus dipanggil ‘Pak’. Nah, satu pelajaran lagi selesai.








