La Tahzan for me

sedang-sedih.jpgMalam itu aku bersedih. Capek pulang dari PKL di RSUD Kodya Yogyakarta pkl 14.00, monitor PC-ku malah ngadat ngga mo hidup. Aku ga bisa kerjain Laporan Bakti-ku selama menjabat sebagai ketua Putri Pramuka UGM. Setelah took a nap 30 menit, aku ke gelanggang untuk rapat pembahasan LPJ itu. Aku terpaksa tunda rapat 1 jam untuk finishing and printing laporan itu.

Rapat pembahasan berjalan lancar selama 2 jam, dan hasilnya aku harus merevisi laporan itu. Teringat monitorku yang ngadat, aku mencoba meminjam laptop kepada seseorang yang aku kenal dekat; tapi dia menolak. Aku bersedih.

Dengan kecepatan rendah yang cuma 20-30 km/jam (in best condition, aku biasanya lari 60 km/jam), aku bawa motorku ke photo talk, cuci cetak pas foto untuk name tag dari RSUD Kota. Di sana aku bertemu teman lama ku di bisnis mobil.

Ternyata dia dan adiknya beli film untuk dokumentasi wisudanya. Wi-su-da. Pendidikan Dokter 2003. Dia memang udah saatnya wisuda. Aku jadi teringat dengan skripsi ku yang masih belum kusentuh. 18-31 Juni besok aku harus sudah pendadaran kalo ingin wisuda Agustus. WADUH!“Selamat ya,” hambar aku sebutkan kalimat itu.
“Makasih Rahma. Oya, aku boleh pinjam camera digital-mu?”
“Aku pake buat PKL besok” aku jawab sekenanya. Aku sedang ngga mood berat. The truth is, camera itu memang dipake untuk besok, tapi ga penting amat sih. masalahnya adalah camera itu ga pernah jauh dariku; ga pernah kupinjamkan ke orang lain. Tepatnya, aku ngga pernah percayakan camera itu ma orang.

Pertemuan singkat itu berakhir. Meskipun aku kembali bersedih saat melihat saldoku di ATM sangat minim (padahal aku punya banyak kebutuhan saat ini),, tapi kejadian kecil itu tetap membuatku berpikir, “How did I do that? He’s my bestfriend! He need that camera more than me!”

Segera setelah sampai di rumah, kutelpon dia, “Ki, ambil camera-nya di rumah.”
Begitulah, akhirnya camera itu pun aku lepas.
“Aku memang perlu kali camera digital. Tadi tuh ngga sengaja ketemu kamu.”
Aku jadi teringat sama kekuasaan Allah. Begitu mudahnya Allah memberikan pertolongan sama hambanya. Straight ketika hamba itu butuh.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al-Baqarah: 214)

“Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Q.S. Ar-Ruum: 5)

“Mungkin aku telah semakin menjauh dari-Nya, sehingga Ia pun menjauh dariku? Ahhh..” Segera aku bangkit dan berwudhu. Aku perlu berdekatan lagi dengannya.

Setelah aku shalat Isya, aku menemukan sms masuk.
“Rahma makasih banget ya. Semoga 4JJ1 melapangkan urusan orang-orang yang melapangkan urusan orang lain. Thx yo sohibku”
Amin.. amin.. Allahumma amin..
La tahzan for me..
Dan aku pun mengakhiri hari itu dengan🙂


Jazakallah buat sahabatku yang membuka pintu hatiku.

This entry was posted in My Room. Bookmark the permalink.

5 Responses to La Tahzan for me

  1. Ferdianto says:

    Ternyata kita ga tahu kapan seorang teman, sedih dan saat itu benar-benar membutuhkan seuntai kata dari kita. Saling menasehati dan menolong dan percaya memang ciri persahabatan. Tapi tidak ada sahabat sejati yang tau semua tentang kita kecuali Allh. Allah selalu tau dan mendengar apapun kata hati kita. So Kamu benar Rahma. La tahzan, karena Allah memang selalu bersama hambaNYA. Oya Met berjuang buat wisudanya….

  2. axe says:

    hanya karena kekuasaan-Nya membuatku menulis ini, semoga takdir pertemuan ini membawa berkah…

    saya malah jadi tergugah dengan tulisan itu jazakillah…
    padahal beberapa waktu yang lalu saya ingn meratapi diri…

    hal yang paling membuatku sebal adalah kebohongan, pengkhianatan, dan itu yang dilakukan teman yang aku percaya…

    tidak menyangka…

    tapi dia minta maaf…
    dia bilang “marah ya? silahkan kalo mau memaki saya,…”

    bangsat!!!
    dasar BATAM!!!
    (BAjingan TAk berMoral)

    mudah kalo cuma ingn bilang itu, tapi buat apa? hati sudah sakit.

    “…jangan dendam ya…”

    kadang ingn membalas kesakitan itu tujuh kali lipatnya, bisa kalo mau, tpi apakah aku harus menghabiskan hidupku, tenagaku, untuk dendam? TIDAK!

    “…kalo mau marah jangan lebih dari 3 hari yaa?”

    seenaknya saja!
    baiklah biarkan ini menjadi urusanku dengan-Nya…

    “Ada yang musti kupikir lagi…
    menahan dendam dan sakit hati…
    dan berjuang membendung benci…
    Tuhan jagalah tanganku ini”

    ebiet g. ade

    salam buatmu

  3. semut kecil says:

    gue nangis,,baca tulisan kamu

  4. tuti says:

    Duch jacian banget…………

  5. ardy says:

    Allah maha tau apa yang kita butuhkan.. karna Allah memberikan apa yang kita butuh bukan apa yang kita inginkan

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s