Panggil ‘Mas’ atau ‘Pak’?

Panggil ‘Mas’ atau ‘Pak’? Panggil ‘Mbak’ atau ‘Bu’?
Dilema seperti ini sering saya alami.

Dulu, ketika saya masih kecil, semua orang besar saya panggil ‘Pak’ dan ‘Bu’. Sampai ketika saya telah lulus SMU dan pindah ke Jogja, saya ditegur ayah saya, “masih muda kok, panggil aja ‘Mbak’,” begitu kata beliau. Saat itu saya mulai menyadari, “oh iya ya, saya sudah besar”. Satu pelajaran sudah saya kuasai. Saya sudah bisa memilah, mana yang akan dipanggil “Mbak”, dan mana yang “Ibu”.

Merasa ‘sudah besar’, saya kemudian menggunakan kata ‘mas’ untuk mas-mas yang jual mie ayam, kernet bus, dll. Hanya saja, terkadang supir bus yang akan kita minta untuk menurunkan kita di tepi jalan menghadap ke depan (pastinya, bukan terkadang lagi), membelakangi kita. Sehingga saya suka merasa bersalah ketika menoleh, ternyata orang yang saya panggil itu ternyata sudah tua. Malah mungkin seumuran ayah saya. “Geblek! Masa dipanggil Mas!” Maka mulai saat itu, saya menerapakan aturan khusus. The Rule is, kalau ia sudah beruban, tidak peduli sedikit atau banyak, ia harus dipanggil ‘Pak’. Nah, satu pelajaran lagi selesai.

Keadaan semakin berkembang. Di masa kuliah, saya sempat terjun ke dunia bisnis. Di sana, saya malah diajarkan untuk memanggil “Pak” kepada semua yang berjenis kelamin pria (tidak peduli dia belum punya anak, termasuk yang masih seumuran dengan saya), dan memanggil ‘Mbak” kepada semua yang berjenis kelamin perempuan walaupun ia lebih muda daripada saya; kecuali jika ia terlihat sudah tua, maka ia pantas dipanggil “Ibu”. OK, ada standar ganda ya, tapi saya coba ikuti saja.

Nah, hari ini saya kembali dibuat bingung. Saya mengunjungi sebuah warung bakso (yang ternyata overprice, huhuhu). Seorang pria berusia 30-an keluar dan bertanya saya mau pesan apa. Ia cukup tinggi, sedikit ada obesitas sentral (analisis yang tidak perlu ya), berkumis cukup lebat dan berambut hitam legam. “Oh, tidak beruban, dan kami tidak berada di dunia bisnis, berarti saya harus memanggil ‘Mas'”

“OK, saya mau soto dagingnya satu, Mas.” Oh, selesai. Mulus. Saya senang.

Saya kemudian makan, dan tiba-tiba ingin menambahkan bakso pada hidangan saya. Saya ke belakang, dan ternyata seorang ibu yang menerima saya. Umurnya sekitar 30-an, secara visual overweight, dan terlalu tua untuk dipanggil ‘Mbak’.

“Saya minta ditambahkan bakso besarnya satu ya, Bu.”

Sekarang jangan salahkan saya. Mas dan Mbak memang tidak matching walaupun mereka suami istri, tapi bagaimana bila keadaannya begini??

Mungkin saya mesti menambahkan definisi dalam kamus hidup saya.
Life, oh life!

This entry was posted in Life oh life!. Bookmark the permalink.

4 Responses to Panggil ‘Mas’ atau ‘Pak’?

  1. Geisha says:

    hi thanks for visiting my blog🙂
    i apologize but i can’t understand your posts🙂 ehhehehe

    >> U’ll understand my next post!🙂
    Thx for visiting me back.

  2. kakeko says:

    Nambahin sama bingungnya kalau harus manggil om atau bapak

  3. Saya banyak belajar tentang Gizi di blog ini…. thx

  4. dhitYD says:

    wah memilah dan memilih kata panggilan yang pas yaa,, penting itu, apalagi kalau kita sudah terjun di dunia bisnis … nice post

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s