Lahirlah si Cantik Yasmine (pengalaman melahirkan anak pertama)

baby yasmine
Pagi itu, hari kedua lebaran tahun 2010. Kandunganku menginjak usia 38 minggu lebih sehari. Aku merasa mulas, kontraksi lebih rapat daripada yang pernah kualami sebelumnya, tapi aku mengabaikannya. Sampai akhirnya aku ke kamar mandi dan menemukan bercak merah di celanaku.

“Oh my God, apa ini??”

Ini kehamilan pertamaku. Dan tentu saja, aku belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Pengetahuanku dan suami yang minim membuatku panik. Aku hanya tahu, ini tidak bisa diremehkan. Aku pun menghubungi dokter kandunganku, dr. Dety, SpOG, dan juga seorang teman yang berprofesi dokter dan bertugas di RSIA yang sama dengan dokterku itu. Namanya dr. Retno Sulistyowati (mungkin sekarang sudah bergelar MM pula)๐Ÿ™‚

“Datang saja ke RS ya, nanti ada bidan jaga yang memeriksa,” begitu pesan mereka.

Dan ternyata, “Bukaan satu. Nanti sore kontrol lagi, ya,” kata bidan itu.

“Hah??” Aku dan suami kaget.

Perkiraan persalinan masih 2 minggu lagi. Aku dan suami hanya berdua di sini, di Jogja. Ibuku masih di Nganjuk untuk berlebaran bersama keluarga besar –ibu sudah stand by sejak 2 minggu yang lalu, tapi kemudian meninggalkanku karena dipikir keadaanku aman untuk ditinggalkan. Lagipula suamiku yang bekerja di Jakarta juga akan datang untuk berlebaran denganku, walau berdua saja. Bapak dan adik-adikku juga kebetulan sedang berlebaran di Nganjuk. Mertuaku lebih jauh lagi, di Sangasanga, Kalimantan Timur. Tak ada saudara di Jogja. Kami benar-benar cuma berdua.

Teringat baru saja kemarin kami merayakan Idul Fitri. Sholat Ied di Monjali, Sarasehan di rumah bapak dukuh, makan sepuasnya di rumah — kami mengundang Ikie dan Tata untuk makan bersama dengan menu sate, lontong sayur, blackforest cake, dan minum coke–, lalu kami jalan-jalan di Ambarrukmo Plaza, dan nonton di XXI. Wah, benar-benar tidak menyangka ini bisa terjadi!

Apalagi aku juga menerima kabar bahwa dokterku sedang berlebaran di Jawa Barat! Akan ada dokter pengganti yang akan menanganiku. Hahaa.. bingung deh…

Sorenya kami pun kontrol lagi, dan ternyata hasilnya pun sama. Masih bukaan satu. Akan tetapi karena malam itu akan hujan, aku disarankan untuk rawat inap saja. Maka kami pun menginap di RSIA Sakina Idaman, nama RS itu. Ibuku pun datang menyusul ke RS malam itu juga.

Kontraksi yang kurasakan masih sama. Tidak terlalu kuat (tapi saat itu aku merasa kontraksi itu sudah cukup kuat, dasar belum pengalaman hehe), jarak antar kontraksi masih lama dan juga belum teratur. Setiap 3 jam sekali, bidan jaga datang dan memeriksaku. Tapi ternyata belum ada perubahan, masih bukaan satu.

Pagi hari esoknya, tanggal 12 September 2010, aku merasakan kontraksiku semakin kuat. Aku pun diperiksa oleh dokter pengganti itu. Namanya dr. Upik. Aku awalnya gugup bertemu beliau, karena sebenarnya aku ini tipe pemilih kalo untuk dokter kandungan. Dokter kandungan idamanku adalah perempuan (kalo dokternya cowok, suamiku ngga rela, hehe) dan ramah. Soalnya saya nggak mau kalo sampai dijudesin dokter pas lagi lahiran — takut nih dengerin cerita-ceritanya orang, hehehe. Tapi setelah bertemu dengan dr. Upik, ternyata beliau orangnya asik. Saya pun tenang.

Hasil pemeriksaan dr. Upik pagi itu menunjukkan bahwa kondisi persalinan saya masih sama. Bukaan satu! Sampai-sampai kami pun disarankan untuk pulang ke rumah hingga kontraksi berjalan teratur setiap 4-5 menit sekali. Sebenarnya saya sempat sedih, tapi mungkin kalau di rumah, saya bisa beraktivitas seperti biasa dan lebih rileks sehingga bukaannya pun bisa maju.

Setiba di rumah, aku pun beraktivitas. Mencuci baju (pakai tangan, belum beli mesin cuci), menyapu lantai, makan nasi padang kegemaranku. Awalnya sih berjalan mulus acara makan nasinya, tapi kemudian aku mulai merasakan nyeri yang luar biasa pada bagian pinggul, sampai tak kuat duduk lagi. Aku harus berdiri dan berjalan untuk mengurangi rasa sakitnya. Bagiku, duduk lebih sakit daripada berdiri, dan berdiri lebih sakit daripada berjalan. Makanya aku memutuskan untuk paksakan berjalan setiap kontraksi itu datang.

Aku meminta bantuan suami untuk mencatat waktu kontraksinya. Masih 7-8 menit. Waktu itu sekitar pukul 1 siang, dan seperti itulah yang terus kurasakan sampai akhirnya aku lelah, tak kuat lagi untuk bangun, dan berdiri, apalagi berjalan. Aku tertidur kira-kira pukul 5 sore.

Begitulah kontraksi itu terus berjalan hingga akhirnya aku terbangun maghrib. Tapi karena aku tak kuat untuk bangkit lagi, aku pun berbaring sambil memeluk guling. Dan rasanya, luar biasa! Nyeri hebat! Tak ada apa pun yang bisa mengurangi rasa sakitnya. Aku hanya bisa pasrah sambil berdzikir. Waktu jarak antar kontraksi masih belum teratur. Masih 5-7 menit. Saat itu aku merasa ngga sanggup. Aku merasa ngga akan kuat untuk melahirkan normal. Aku ingin suntik penghilang rasa nyeri. Aku mau ILA ( Intra Lumbal Anestesi), bius untuk kurangi rasa nyeri.

Sambil menangis aku meminta suami untuk menelpon RS untuk menyiapkan prosedur itu. Tapi suamiku tidak bersedia.

“Ingat kata dokter, efek sampingnya tekanan darah bisa drop tiba-tiba. Nanti kalo adek kenapa-napa gimana” kata suamiku.

Aku cuma bisa menangis. Aku juga tak ingin ada apa-apa dengan anakku. Aku tak mau ambil resiko itu.
Kontraksi kuat terus berjalan, namun belum teratur juga. Waktu menunjukkan pukul 11 malam saat aku merasa tak kuat lagi dan akhirnya kami ke RS dengan dijemput mobil dari sana.

“Bukaan tiga”
Alhamdulillah, akhirnya bukan bukaan satu lagi. Para bidan jaga pun mempersiapkan segala sesuatunya dan menghubungi dr. Upik.

Bidan menyuruhku untuk berbaring miring ke kiri agar aliran darah lebih.lancar. Kontraksi yang kurasakan semakin intens. Nyeri luar biasa! Saya kembali memohon ke suami untuk diizinkan pakai ILA. Suami pun, karena kasihan, menghubungi dr. Upik. Namun dokter itu menyarankan saya untuk terus bertahan dan juga bilang, “Itu biasa dirasakan pada bukaan tiga”.

Pada bukaan empat, saya kembali merengek untuk diberikan ILA. Apesnya, bidan datang dan menyampaikan, “Dokter anestesinya lagi ada operasi, Mbak. Kira-kira 1 jam lagi. Bagaimana?”

“Oh noooo…..!!” jeritku dalam hati. “Ya sudah saya tunggu aja,” aku pasrah.

“Eman-eman lho, Mbak,” kata Mbak Fitri, si Bidan. “Sakitnya masih tetap terasa, trus mahal lagi.”

Kata-katanya membuatku berpikir ulang.

“Apalagi sekarang udah bukaan 6,” lanjutnya setelah memeriksaku lagi.

Alhamdulillah, aku takjub. Tadinya diperkirakan 1 jam untuk 1 bukaan, tapi ternyata jauh lebih cepat. Tapi yang namanya kontraksi ini belum berakhir. Masih kuat dan jaraknya pendek.

Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB, tgl 13 September 2010. Dr. Upik tiba. Suntikan perangsang pun diberikan. Setelah suntikan itu, kontraksi demi kontraksi berlangsung seolah tak ada jeda. Saking lelahnya, aku sempat tertidur. Kata suamiku, ngorok pula! ๐Ÿ˜›

Akhirnya, pukul 1.30 WIB, bukaan itu sudah lengkap (cepat sekali ya?). Ketubanku belum pecah dan dipecahkan oleh dr. Upik. Beliau pun menyuruh saya mengejan jika kontraksi datang. Alhamdulillah, pukul 2.00 WIB, lahirlah si cantik itu. Allahu akbar, luar biasa. Mendengar tangisnya, terbayar sudah perjuangan melelahkan 42 jam.

<img an

Ia pun langsung diletakkan ke dadaku untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Aku bahagia sekali. Akhirnya aku menjadi seorang ibu. Tadinya kupikir aku tak akan kuat, tak akan sanggup. Tapi ternyata, berkat pertolongan Allah, aku bisa. Berat badan lahirnya 2850 g dan panjangnya 49 cm. Menurutku anak bayi sebesar itu bisa keluar dengan baik melalui saluran yang sempit, adalah suatu keajaiban. Allahu akbar!

Kami memberinya nama: Yasmine Azalia Raharjo. Melati sejahtera yang diberkahi Tuhan. Saat ini Yasmine telah berusia 1 tahun 9 bulan. Alhamdulillah ia sehat, cantik, dan pintar. Semoga ia menjadi anak sholehah. aamiin..

— — — —

Terima kasih untuk suamiku yang bersedia mendampingiku selama proses melahirkan ini, tanpa meninggalkanku sedikit pun. Terima kasih telah membisikkanku kalimat-kalimat Allah yang tak pernah putus. Terima kasih telah menyerahkan tangan kanan untuk kuremas sekuat tenaga setiap kontraksi datang. Maafkan aku sempat meninjumu saat aku berjuang mengeluarkan anak kita dan engkau katakan, "Ayo semangat, tangannya udah keliatan!" Bayangkan kalo benar tangannya kelihatan duluan coba! Hahaha๐Ÿ˜€

Terima kasih kepada tim medis yang membantu lahiranku, terutama dr. Upik dan bidan Fitri.

Terima kasih untuk keluargaku; ibuku yang ikut sibuk menungguiku; bapak, mbah putri, dan adik-adikku yang langsung menyusul ke Jogja menengok kami; keluarga Sangasanga, bapak dan mama yang ikut begadang dan mendoakan kami dari jauh; dan seluruh adik-adik dan keluarga besar yang ikut mendoakan.

Terima kasih kepada Mbak Retno atas semua support dan bantuannya. Juga kepada Ikie dan Tata atas kebersamaannya di hari terakhir sebelum perjuangan hidup dan mati itu.

Meskipun maju 2 minggu dari HPL, namun sungguh Allah telah merencanakan segala sesuatunya dengan sangat baik sehingga itu adalah hari yang sangat tepat untuk kelahiran putri kami.

This entry was posted in My Room and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Lahirlah si Cantik Yasmine (pengalaman melahirkan anak pertama)

  1. susiloharjo says:

    itulah mengapa surga itu di bawah kaki Ibu bukan kaki seorang ayah karena perjuangan melahirkan seorang anak itu berat antara hidup dan mati, semoga menjadi perhatian untuk anak anak yg masih memiliki Ibu sayangilah ibu qta.

    Untuk istriku tercinta terimakasih atas perjuanganmu melahirkan anak anak yg sehat, lucu dan merawatnya hingga besar nanti semoga menjadi anak anak yg sholeh dan sholeha serta berguna bagi nusa dan bangsa.

  2. aamiin..
    Terima kasih, Sayang. Bangga, deh, punya suami yg ga panikan dan ga takut darah. Seneng bgt bisa lalui peristiwa penting ini bersamamu. Semoga catatan ini bisa jd pengingat memori kita. Juga sbg cerita untuk anak2 kita, n para calon ibu n calon bpk yg ingin tahu dg pengalaman ini๐Ÿ™‚

  3. ratna says:

    Alhamdulillah, ak terharu membaca artikel mbak sampai mau nangis
    minta doanya ya mbak, ni juga kehamilan pertamaku, sekarang dah memasuki usia 32 minggu…..semoga diberi kelancaran oleh Allah. Amin

  4. Ama says:

    iya, Mbak Ratna.. Saya doakan semoga lancar, sehat selamat ibu dan bayinya.. aamiin..๐Ÿ™‚

  5. dwi says:

    sungguh smpurna qt sbg wanita,tlh menjd istri dan sekligus ibu dr ank2 qt.smg perjuangan qt mndpt blzn yg indh dihr esox

  6. Benar, Mbak Dwi.. Anak-anak hanya akan lahir dari rahim seorang ibu. dan ibu itu pulalah yang akan mendidiknya menjadi seseorang yang diharapkannya. menjadi ibu itu sesuatu ya. hehehee..

    aamiin.. aamiin Mbak..

  7. nasya says:

    allahu akbar, iya. . . selamat ya. aq trharu neh. cerita mbx membuatq trgugah u. berani menghdpi persalinan. Doakn aq ya ,mbx, moga makn mantap menuju pernkahan dan sgra d.karuniai mo2ngn.amin3x. Mjd wanita adlh khormtan ya, mbx. pngen nambh lg gx ne mbx?

  8. Makasih ya Mbak Nasya..
    Nambah lagi? Hohohooo.. saat ini alhamdulillah saya sudah dikaruniai 2 anak, sepasang pula. Cerita lahirannya ada di post setelah ini (hehe). Jadi buat kami cukup dulu deh๐Ÿ™‚

    Iya Mbak Nasya,, saya doakan semoga persalinan Mbak nanti lancar, dimudahkan.. Mbak dan baby nya sehat selamat.. aamiin..

    Semangat ya, Mbak!๐Ÿ™‚

  9. airria says:

    hehehehee…senangnya ya bun..kagum dan berkaca2 hihihihi. yasmine pasti dah makin ngegemesin yaa… baca artikel bunda jd pengen segera merasakan bahagianya jg ibu hehheee, maklum sy akan segerra promil setelah pengobatan torch.. mohon doanya ya bun… 4th blm dapet baby niii, *curcol :”>๐Ÿ˜€ . sehat selalu yasmine.. aminnn

  10. Wooow… Semoga berhasil programnya ya, Mbak.. Insya Allah akan punya baby yang gemesin juga. aamiin.. hehehe๐Ÿ˜€

    Makasih doanya ya, Mbak.. dan terima kasih sudah berkunjung.. :

  11. devniprimasari says:

    Saya sampe nangis terharu membacanya mbak….sekarang saya juga lagi di jogja..sendirian…lagi lanjut kuliah…semua keluarga di padang…ga kbayang ntar gimana saya lahiran…skrg jalan 4 bulan…

  12. Makasih Mbak๐Ÿ™‚
    Oh Mbak Devni sudah 4 bulan ya.. subhanallah.. banyak2 berdoa Mbak.. semoga dimudahkan, dilancarkan semuanya.. insya Allah kalau kita memintanya dg sungguh2, makbul Mbak.. Mbak tenang aja.. mandiri dan sambil kuliah pula, insya Allah akan terbawa ke sifat2 si bayi nanti. Saya doakan semoga lancar ya Mbak hingga lahiran dan seterusnya. Sehat ibu dan bayinya. Aamiin.๐Ÿ™‚

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s