Welcoming Baby Dipa (Pengalaman Melahirkan Anak Kedua)

Tulisan ini kupersembahkan untuk anakku, Dipa.

Ini kisah kelahiranmu, Nak.

Sabtu, 17 Maret 2012. Bunda ketar
image

ketir. Waktu itu bunda sudah hamil besar dan cukup bulan, usianya 39 minggu. Kakakmu Yasmine berusia 1,5 tahun. Tapi ayahmu ditugaskan ke Sangatta tanggal 20 Maret untuk 3 bulan!

Sebelumnya ayahmu sudah merayu-rayu project manager-nya dan keberangkatannya untuk tanggal itu pun sudah hasil mundur dari rencana semula, demi menyambut kelahiranmu. Dan sekarang tidak ada kompromi lagi, harus berangkat pada tanggal itu. Tiket pesawat pun sudah di tangannya. Namun tanda-tanda kelahiranmu belum juga terlihat.

Bunda ingin sekali kelahiranmu ditemani ayahmu, seperti kelahiran kakakmu dulu. Bunda selalu berdoa untuk itu. Tapi kalau begini kondisinya, mau tak mau bunda harus belajar ikhlas buat lahiran sendiri.

Eyang putri (yangti)-mu sudah stand by di rumah. Juga ada asisten rumah tangga bunda yang masih harus banyak belajar sehingga belum bisa ditinggalkan di rumah berdua saja dengan kakakmu. Tak ada saudara lain yang bisa hadir menemani. Itulah yang membuat bunda harus siap melahirkan sendiri.

Tapi bunda masih belum menyerah, Dek. Bunda pikir, mungkin kamu ingin perlakuan yang sama seperti kakakmu menjelan lahiran dulu, hehehe. Jadilah bunda dan ayah pacaran lagi. Jalan-jalan berdua di mall, makan berdua, nonton berdua, dan alhamdulillah, keesokan siangnya, kurang lebih pukul 13.00, keluarlah flek yang dikonfirmasi bidan (bidan Puput Pungkas) telah bukaan satu. Artinya proses kelahiranmu telah dimulai, Nak.

Bunda dan ayah excited banget. Karena bunda sudah pernah melahirkan sebelumnya, bunda tidak panik. Hanya saja bunda diingatkan bidan untuk lebih waspada karena ini anak kedua yang biasanya prosesnya akan lebih cepat daripada anak pertama (mungkin Kamu sudah pernah baca bahwa kelahiran kakakmu membutuhkan waktu 42 jam!). Kontraksi demi kontraksi bunda jalani di rumah saja hingga akhirnya bunda merasa kontraksinya semakin lama durasinya dan semakin pendek jaraknya.

Itu terjadi pada pagi hari tanggal 19 Maret 2012. Bunda dan ayah langsung ke UGD dan diperiksa oleh bidan. Ternyata sudah bukaan tiga. Bunda pun langsung dibawa ke ruang bersalin.

Di ruang itu, bunda memakai baju khusus dari rumah sakit. Kontraksi perut bunda dan detak jantungmu pun direkam. Bunda juga diberi obat perangsang BAB, yang efeknya langsung terasa. Juga obat perangsang kontraksi, yang setelahnya kontraksi rahim bunda berlangsung terus menerus nyaris tanpa jeda. Bunda ingat waktu itu makan siang sudah datang, tapi bidan langsung menyuntikkan obat perangsang kontraksi itu. Bunda jadi tak bisa makan apa-apa selain pepaya yang disuapkan ayahmu. Biarpun begitu, saat bukaan tujuh, dokter kandungan bunda yang sudah stand by (dr. Dewi Retnowati, SpOG), heran dan menanyakan, “masih kuat?” saat bunda turun dari tempat tidur untuk BAK, hehehe..

Ternyata, alhamdulillah, tidak butuh waktu lama, Nak, pukul 13.32 kamu pun lahir –19 Maret 2012 itu hari Senin, hari yang sama dengan lahirnya kakakmu, dan Rasulullah juga lho! Bunda melihatmu putih, ganteng, semok (berotot juga), lucu, dan suaranya keras. Bunda bersyukur sekali kamu bisa lahir dengan sehat selamat, plus diazanin langsung oleh ayahmu🙂

Beruntung (alhamdulillah) saat itu bunda ditangani dokter dan bidan yang sangat peduli Inisiasi Menyusui Dini (IMD), sehingga setelah kamu dibersihkan, proses IMD pun dilakukan. Ada sekitar 1 jam kita IMD didampingi Bidan Pungkas. Alhamdulillah lancar, Nak🙂

Setelah itu bunda diobservasi selama 2 jam. Saat itu, bunda mengalami perdarahan dan dijelaskan oleh Bidan Pungkas bahwa kemungkinan ada bagian selaput pembungkus ketuban yang tertinggal. Bidan pun berusaha membersihkannya tetapi masih ada bagian tak terjangkau. Kasus ini pun dilaporkan kepada dokter.

Dokter Dewi pun datang lagi dan memeriksa bunda dengan USG. Benarlah, ada bagian dari selaput itu yang sangat kecil di sana dan harus dikeluarkan dengan cara dikuret (curetage). Bunda dan ayah yang masih awam sedikit cemas soal hal ini. Bunda pun dijelaskan bahwa kuretnya tidak akan terasa sakit karena dibius umum dan tidak akan lama karena hanya membersihkan bagian yang tertinggal tadi. Bunda juga disuruh puasa selama 2 jam.

Yah Dek, sore itu bunda dan ayah tidak jadi ke kamar dan bermain denganmu. Kami masih harus stay di kamar bersalin, bahkan ayah pun berbuka puasa di samping bunda (hikss. Maaf ya yah).

Sekitar pukul 20.30 kuret pun dilakukan dan memang benar, tidak lama dan tidak sakit. Hanya 15 menit dan beberapa menit kemudiannya bunda sudah sadar kembali (rasanya ngantuk berat, Dek!).

Setelah observasi 2 jam lagi, alhamdulillah keadaan Bunda sudah baik dan akhirnya bisa beristirahat di kamar. Pagi harinya barulah bunda dan ayah bisa bertemu denganmu. Suaramu keras sekali menangis karena lapar, diantarkan suster cepat-cepat biar segera disusui bunda.

Dan tentu saja, Nak, karena kamu lahir, jadi ayah mendapat cuti kantor dan perjalanan dinasnya pun diundur 5 hari. Alhamdulillah ya, Nak. Besar sekali nikmat Allah yang bunda rasakan.

Kami memberimu nama, Pradipa Apta Raharjo. Yang artinya anak laki-laki dari keluarga Raharjo yang cerdas dan menjadi penerang. Semoga kelak Kamu tumbuh sehat, cerdas, sholeh, berbakti kepada orang tua, bangsa dan agama. Aamiin..

Bunda tidak akan melupakan jasa baik dokter dan para bidan yang membantu kelahiranmu. Semoga kebaikan-kebaikan dr. Dewi Retnowati, SpOG beserta para bidan (especially Bidan Puput Pungkas), serta pelayanan perawat dan staf Rumah Sakit Ibu dan Anak Graha Permata Ibu Depok dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang banyak.

Demikianlah cerita bunda. Pengalaman ini bunda tuliskan agar bunda tidak lupa dengan detail kisah ini dan juga agar Kamu tahu kisah dibalik kelahiranmui🙂

P.S.
– Proses kelahiran kakakmu membutuhkan waktu kurang lebih 42 jam, sedangkan kamu 24 jam! Angka cantik ya🙂
– Berat badan lahirmu adalah 3,43 dan panjang badanmu 50 cm.
– Kalau Kamu besar nanti, jadilah seperti ayahmu yang rela mendampingi bunda saat bunda melahirkan kalian. Ayahmu melakukan apa saja untuk membuat bunda merasa lebih nyaman. (Terima kasih, suamiku. Terima kasih, Allah, telah memberiku suami seperti dia).

This entry was posted in me as a mom, My Room, Nutrition's corner and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Welcoming Baby Dipa (Pengalaman Melahirkan Anak Kedua)

  1. Lita Rachma says:

    wah selamat ya bun atas putera keduanya…
    boleh tanya soal dokter di GPI ga, referensi nya dokter siapa aja dan bagaimana cara penanganan terhadap pasien di rs itu, soalnya saya juga di GPI dan pernah dengan dokter Dewi tapi koq kurang ramah ya, terima kasih sebelumnya…
    Salam – Lita

  2. Hai Bunda Lita.. makasih ya ucapannya..

    Minta referensi dokter kandungan ya Bun? Wah klo GPI, saya ke dr. Dewi aja, ga pernah ke yang lain, hehe.. abisnya di sana kan satu-satunya DSOG yg perempuan ya.. suami ga rela klo saya ma dokter cowo, haha.. :p

  3. Putri says:

    Waaaaah.. real Dipa😀
    Ilan putra saya saat dalam kandungan saya sebut : Dipa

  4. Dipa nama yg indah yaa.. Hahaha *bangga* :p

    Dylan juga nama yg keren🙂

  5. ace maxs says:

    wahhh selamat ya bund atas kelahira putra keduanya..
    alhamulillah di berikan kelancarn, anaknya lucu banget😉
    selamat deh buat buna isana😀
    semoga kelak anaknya menjasi anak yang berbakti paa orang tua amin

  6. Iya alhamdulillah lancar.. Aamiin.. Makasih doanya ya Bunda.. Barakallah utk bunda🙂

  7. Pakdhe Dino says:

    Alhamdulillah yaaaaahhh … ihh imutnya, kapan kapan boleh doong nyubit tu pipi hihihihi, pakdhe ingin elus2, hehehe .. moga jadi anak yang Sholeh dan berbakti yaaa …
    Artikel yang sangat bermanfaat gan, semoga selalu bertahan untuk memberikan kemanfaatan, semangat yaa … oya mampir dong ke blog ane ya gan

    Pilih Topiknya

    Kumpulan informasi tentang batik warna cerah
    Artikel tentang mutiara lombok
    Contoh2 file administrasi, modul, surat dll
    Informasi tentang tempat, toko termurah
    Shopping dan kulakan baju dan kain murmer
    Blog tentang budaya ningrat dan batik tulis
    Hobby bertani dan berkebun serta tips2nya

    Makasih, semoga anda dan keluarga sehat selalu & di berkati Tuhan Allah SWT

  8. waduh jangan dicubit dong pakdhe, ntar dia nangis hahaha.. makasih Pakhe Dino.. iya nanti saya mampir ke blog njenengan🙂

  9. veriska.com says:

    wahhh selamat ya bunda atas kelahoiran anaknya..
    mungkin sekarang udah besar😉

  10. Terima kasih, Bunda.. sekarang alhamdulillah sudah 3 th usianya🙂

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s