Berteriak membunuh karakter

Oleh Nurfiah Majid and Ecka Pramitha

Ada salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif
yang tinggal di sana punya sebuah
kebiasaan yang menarik yakni
meneriaki pohon.

Untuk apa?

Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuan
supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan
memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan
berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.

Dan, apa yang terjadi sungguh
menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau diperhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka.
Mereka telah membuktikan bahwa
teriakan-teriakan yang dilakukan
terhadap makhluk hidup seperti
pohon akan menyebabkan benda
tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu singkat,
makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, Yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

**

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? Orang dikeliling anda atau siapapun?

“Ayo cepat! Cepetaaaaaan!”
“Dasar lelet! Kayak keong aja lu!”
“Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?”
“Jangan main-main disini! Berisiiiii
iiiiik! diem, diem, diem! aaaaah!”

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?

“Suami/istri seperti kamu nggak tahu diri! Ngaca dong ngaca!”
“Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa! bisanya cuma minta, minta, dan minta !”
“Aduuuuh, kampungan banget
siiiih!? gak makan sekolahan apa?! Gini aja gak bisa!”

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya:
“Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa ngerjain! Kapan kamu jadi pinter?!”

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal:
“Eh tahu nggak?! Karyawan kayak
kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel! Ada banyak yang bisa gantiin kamu!”
“Payah! Kerja gini nggak becus?
Ngapain gue gaji elu?”

Ingatlah!
Setiap kali Anda berteriak pada
seseorang karena merasa jengkel,
marah, terhina, terluka ingatlah
dengan apa yang diajarkan oleh
penduduk kepulauan Solomon ini.
Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh
roh yang telah melekatkan hubungan Kita dalam kehidupan sehari-hari.

Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, benar? Nah, mengapa orang yang marah dan
emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter?

Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling
berteriak!

Selain itu, dengan berteriak, tanpa
sadar mereka pun mulai berusaha
melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang, Jika Kita tetap ingin roh pada orang
yang Kita sayangi tetap tumbuh,
berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.

Dengan berteriak kepada orang lain ada dua kemungkinan balasan yang kita akan terima.
Kita akan dijauhi atau Kita akan
mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Dari Anas r.a.,
“Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan kata kata hardikan kepadaku, tidak pernah
menanyakan: ‘Mengapa engkau
lakukan?’ dan pula tidak pernah
mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”
(HR Bukhari, Kitabul Adab 5578,
Muslim, Kitabul Fadhail 4269)

Dari Jarir bin Abdullah r.a.:
“Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda: “Barangsiapa yang tidak
dikaruniai sifat lemah-lembut, maka ia tidak dikarunia segala macam kebaikan.” (HR. Muslim)

“Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah SAW mengadukan hatinya yang keras, maka beliau saw bersabda,
“Apakah kamu suka jika hatimu
menjadi lunak dan kebutuhanmu
terpenuhi? Sayangilah anak yatim,
usaplah kepalanya, dan berilah ia
makan dari makananmu niscaya
hatimu menjadi lunak dan
kebutuhanmu terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani.)

sumber: Catatan Rumah Yatim
Indonesia

This entry was posted in General, Islam, Life oh life!, parenting and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s