Sepenggal Kisah Kepergian Bunda

“Bunda takut mati, Yah,” kata-katanya membuatku berhenti mengetik. Tidak biasanya istriku mengangkat topik itu.

“Ah, lebay,” pikirku dalam hati, lalu melanjutkan pekerjaanku.

Istriku suka mengeluh. Tiap hari ada saja yang dikeluhkannya. Anak-anak, tetangga, orang tua, sampai perilaku artis pun dibahas. Aku malas mendengarnya. Selain ghibah, mendengar keluhan orang itu menguras energi. Capek!

Program aplikasi pelaporan untuk kantorku sebentar lagi launching. Kejar tayang, sampai-sampai harus lembur di rumah. Butuh perhatian dan harus teliti supaya bisa jalan.

“Bunda takut di dalam kubur; dipocongin, gelap, sendirian, sempit, nanti datang malaikat, … Serem!!” lanjutnya.

Kulirik dia, pandangan matanya lurus menerawang. Sepertinya otaknya sedang memberi visual tentang alam kubur. Mukanya tegang. Bibirnya manyun.

Sedetik kemudian dia berkedip, lalu memandangiku. Menunggu jawabanku.

Aku tidak tahu harus berkata apa, dan melanjutkan pekerjaanku lagi.
“Waktu itu berharga. Deadline menanti. Mending urusin yang di depan mata, daripada yang ngawang-ngawang. Bisa ngga sih ngga gangguin orang kerja?” aku menggerutu dalam hati.

Benar saja, istriku sudah asyik lagi menonton TV. Tidak seperti biasanya yang mencucu kalau dicuekin, kali ini dia lebih pengertian. Mungkin dia hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saja.

Kami belum lama berumah tangga, baru 5 tahun. Ribut-ribut kecil mewarnai keseharian, tetapi manisnya memiliki anak juga kami rasakan. Anak kami dua orang, si kembar Cici dan Caca. Usia mereka 3 tahun, lagi lucu-lucunya. Istriku yang mengasuhnya sendiri, tanpa baby sitter maupun ART (Asisten Rumah Tangga). Mungkin karena sikapnya yang perfeksionis membuatnya sering merasa tidak cocok dengan orang lain. Otomatis, memasak, membersihkan rumah dan halaman, mencuci baju, mengurus anak, dan sebagainya, dia semua yang melakukannya. Aku hanya membantunya sesekali, saat weekend.

Hari-hari pun berganti, aku sudah melupakan keluhan lebay bunda. Pun belum sempat menjawabnya. Atau pun menenangkannya. Hingga datanglah sore itu.

Sore itu, kepulanganku disambut tangisan Cici dan Caca, “Ayah, bunda, Ayah.. Ayah, bunda..”

Mukaku langsung pucat dan berlari masuk ke rumah. Kutemukan bunda terbaring di atas sofa, tak sadarkan diri.

Aku memanggilnya, “Bunda.. Bunda!”

Tak ada sahutan. Biasanya ia langsung tersenyum karena ketahuan pura-pura tidur. Namun kali ini bibirnya tak bergerak.

“Bunda!” kupanggil lagi. Kugoyangkan badannya. Dia tetap tidak bergerak. Padahal mukanya terlihat damai. Tak ada bedanya seperti orang tidur. Aku tak percaya dia sudah tak ada.

Benar, ia tidak bernafas. Nadi pun tak ada. Badannya sudah dingiin.

“Bunda kenapa, Ayah?” Cici dan Caca bertanya lagi sambil menangis. Mereka tidak mengerti mengapa bunda mereka tidak juga bangun.

* * *

Aku sangat terpukul dengan kepergian bunda yang tiba-tiba. Bunda tak punya penyakit berat apa pun. Yang kutahu, ia kerap sakit kepala. Hampir setiap hari ia mengeluh sakit kepala, dan ia meminum paracetamol. Kami tak menganggap sakit kepalanya itu adalah hal yang serius.

Apakah ia punya tumor atau kanker di kepalanya? Apakah ia terlalu capek mengurus anak-anak kami? Mungkinkah ia kurang tidur lagi sehingga tekanan darahnya tinggi lagi? Ah, entahlah. Tak ada gunanya lagi. Bunda sudah pergi. Aku harus menerimanya sebagai takdir Allah.

Bayangan memori tentang bunda hadir di mataku, seolah ia ada di depanku. “Ayah mau minum apa? Udah makan, belum? Masakan bunda enak, ga?”

Bunda, meskipun dia lebay dan panikan, idealis cenderung perfeksionis, manja dan suka mengeluh, tapi kuakui ia orang paling perhatian yang pernah kutemui. Tak hanya aku dan anak-anak, kekuargaku pun diperhatikannya, bahkan lebih perhatian daripada aku. Ia juga cermat mengurus buah hati kami. Aku merasa beruntung memilikinya. Tapi mungkin aku terlalu menyia-nyiakannya.

***

“Bunda, maafkan ayah akan meninggalkan Bunda. Walaupun Bunda sendirian di sini, ayah akan selalu doakan Bunda. Ayah tahu, Bunda takut gelap ‘kan? Ayah akan doakan supaya Allah terangi kubur bunda. Bunda takut apalagi? Bunda takut sempit? Nanti ayah doakan supaya Allah melapangkan kubur Bunda. Supaya Bunda merasa nyaman di sana. Bunda jangan takut lagi, ya,” aku memegang nisan bunda. Para pengantar sudah mulai meninggalkan pemakaman tetapi aku masih ingin tinggal dan berbicara dengan bunda.

“Bunda tenang-tenang ya, di sini. Anak-anak akan ayah rawat bersama eyangnya. Mereka akan ayah didik dengan baik agar bisa jadi wanita yang kuat, mandiri, dan sholeha seperti Bunda.

Bunda, ayah maafkan segala kesalahan Bunda. Ayah ridho dengan Bunda. Mudah-mudahan Allah juga ridho dengan Bunda, dan Bunda bisa masuk surga. Semoga kita bisa berkumpul lagi di surga ya, Sayang. Selamat jalan, Bunda. I love you, and will always do.”

Itulah terakhir kalinya aku melihat Bunda. Dan kenangan tentang Bunda tak akan pernah lekang.

Depok, 9 Januari 2014

This entry was posted in Fiksi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Sepenggal Kisah Kepergian Bunda

  1. darkjasm says:

    Kak aamaaaa… Ini fiksi kaaan?? Kenapa malam-malam nulis begini kaaak,,😦 inget maaak jadinyaaa… :(((((((

  2. Ehehee.. Iya, Tha, ini fiksi.. Sumpee…

    Maaf ya, Tha, kalo bikin sedih..

    Ini bikinnya juga sambil berlinangan air mata. Untung anak2 lagi tidur siang, kalo ga bisa heboh mereka liat bundanya mewek. Hehehe..

  3. darkjasm says:

    Hahahaa… Iya kaaak… Gapapaa… Lumayan buat bahan perenungan jugaaa… :-*

  4. kova says:

    walau fiksi aku bacanya juga sambil nangis ne hhee soalnya itu pertanyaan yang sering aku utarakan sama suamiku dan jawabannya malah aku di marahi karena bicara yang tidak tidak..

  5. heheh.. makasih ya, Mbak Kova.. kayaknya kebanyakan suami ngga suka diajak melow ya? hehe..😀

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s