Harapan Sederhana Yasmine

image

Suatu siang, sewaktu aku menemani Yasmine (3,5 th) makan (dia makan sendiri), dan menyuapi Dipa (2 tahun), kami melihat sebuah iklan di TV, dimana seorang bayi dadah (wave goodbye) ke ibunya.

Melihat scene itu, Dipa (1,5 yo) bilang, “dadah..”

Aku jelaskan, bahwa ibunya mau pergi bekerja. Adek bayinya ditinggal bersama bibinya.

Yasmine juga melihat hal itu. Lalu aku bertanya padanya, “Kakak mau Bunda pergi kerja?”

Dia diam saja.

“Iya, kayak yang di TV itu, kakak mau ga kalau bunda kerja? Nanti kakak ditinggal sama bibi,” terangku lagi.

Mulutnya merengut. Keningnya berkerut. Matanya terlihat tajam, memberontak. “Ngga mau!” jawabnya singkat.

“Kayak kakak R, bundanya pergi kerja, dia ditinggal sama bibi. Kakak mau ga ditinggal sama bibi?” aku mencontohkan seorang tetangga usia setahun terpaut lebih tua darinya, yang ditinggal bekerja ibunya. Sehari-hari, sejak subuh hingga malam, anak tersebut ditemani bibinya, baby sitter sekaligus ART (Asisten Rumah Tangga) mereka.

“Ngga mau! Aku mau sekolah aja!” dia menjawab cepat. Masih dengan kening berkerut dan mulut manyun.

Aku awalnya tidak mengerti, mengapa dia malah menjawab mau sekolah, tapi seolah bisa membaca pikiranku, dia bilang,

“Aku mau pergi sekolah! Bunda yang jadi gurunya!”

Aku terharu mendengarnya.

Ingin menegaskan kembali tak ingin ditinggal olehku, ia mengulanginya lagi, “Aku mau bunda jadi gurunya!”

“Iya, iya, bunda yang jadi gurunya,” jawabku cepat.

Yasmine anak yang sensitif. Sesuatu yang bersifat melankolis, bisa membuatnya menangis. Itulah mengapa aku menjawabnya segera. Meskipun sedikit tergagap karena tak menyangka mendengar jawabannya.

Yasmine menjawab ingin sekolah dan aku menjadi gurunya, adalah hal yang kami lakukan sehari-hari. Homeschooling. Dia belajar bernyanyi bersamaku, belajar sopan santun, belajar menyiram tanaman, dibacakan cerita, belajar makan sendiri, pakai baju sendiri, belajar menggambar, and so on.

Yasmine sayang, bunda akan selalu ada di dekatmu, tidak akan meninggalkanmu kecuali saat kamu siap nanti.

Kamu ya kamu, orang lain ya orang lain. Setiap orang punya jalannya masing-masing, bunda menghargai mereka.

Dan Bunda juga menghargai-Mu, malaikat kecil bunda. Hal paling penting dalam hidup bunda. Maka bunda pilih Kamu.

Sejak menikah, ikut ayahmu, lalu hamil (tanpa jeda), lalu melahirkanmu, Kamulah prioritas Bunda. Bunda tak tega meninggalkanmu.

Bahkan ketika kamu punya adik di usiamu yang baru 1,5 tahun, dan terpaksa bunda hire bibi untuk menemanimu, melihatmu dipangku oleh bibi saja sudah membuat bunda cemburu. Itulah mengapa ketika bibi resign, bunda tak mau menggantikannya dengan yang lain. Cukup bunda saja.

Semoga bunda bisa menjadi bunda terbaik untukmu. Madrasatul ulum-mu. Guru pertamamu. Aamiin..

*** *** *** *** *** *** ***

Stay at home mom atau pun working mom, sama-sama seorang mommy, seorang bunda, seorang mama, ataupun seribu panggilan lain oleh (anak-) anaknya. Sama-sama berusaha menjadi ibu terbaik untuk anaknya.

Setiap orang punya pilihan. Setiap orang punya alasannya masing-masing. Saya menghargai keputusan mereka. Saya yang tinggal di rumah juga punya alasan sendiri. Dan kata-kata anak saya menjadi semakin menguatkan keputusan saya.

Saya juga merasa sangat bersyukur, tidak berada dalam situasi dimana harus bekerja meninggalkan rumah demi menutupi kebutuhan harian.

Bagaimanapun, seorang ibu pasti menderita bila berpisah dengan anaknya. Karena itulah, saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada para ibu di luar sana yang bekerja jauh dari anak-anaknya, orang-orang yang mereka kasihi, demi menghidupi mereka. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Aamiin..

This entry was posted in me as a mom, My Room and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Harapan Sederhana Yasmine

  1. dan saiya sukses nangis!
    arrgghh!! sedang diantara dilema ingin resign dan menjadi ibu profesional malah kebaca postingan ama ini!

    setiap berangkat kerja (pagi dan sehabis ishoma siang setelah menyusui) dan melihat kak riri merengut menangis sambil digendong budhe pengasuh setiap hari sungguh mengiris hati. yup, tiap hari, itulah saat2 yang paling menyakitkan. menderita.. bekerja memang keinginan sendiri. tapi sejak saat pertama kali menatap binar mata kak riri dihari kelahirannya, sungguh keinginan itu lenyap berganti hasrat untuk menjadi stay at home mom.. apalagi melihat dunia yang semakin kejam..😥

    well, terima kasih ama sudah menguatkan keinginan ini. semoga segera bisa menyusul jejakmu dan jejak stay at home mom lainnya yang mengabdikan waktunya untuk keluarganya..
    aamiin..🙂

  2. Waduh, maaf ya kalo jadi bikin sedih..

    Aamiin.. Semoga dimudahkan ya, presty..🙂

  3. zahra.apt says:

    dan ketika saat ini qt belajar mjd seorang ibu… tidak mudah namun menyenangkan🙂
    smg anak2 kita mjd generasi yg sholeh dan sholehah ya,aamiin…

  4. pfiuh iya, Mbak.. ketika menjadi seorang ibu, ama baru menyadari ternyata tangung jawabnya luar biasa.. tapi ya benar, Mbak.. menyenangkan hidup bersama mereka dan melihat pertumbuhan dan perkembangan mereka..

    smg anak2 kita mjd generasi yg sholeh dan sholehah ya,aamiin…
    >>aamiin aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.. *hug*

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s