Perampokan Mencekam

Ckrk!

Sayup kudengar suara pintu depan dibuka. Aku langsung terbangun. Menajamkan telingaku. Kantukku lenyap.

Dalam remang, kucari telepon genggam, dan memencetnya, “Jam dua lewat sepuluh, masih dini hari!” aku shocked.

Kulihat anak-anak masih terlelap di kanan-kiriku. Sementara suamiku sedang dinas di luar kota. Jantungku berdegup kencang. Napas mulai cepat. Telapak tangan menjadi sedingin es.

Tak terdengar apa-apa. Mungkin karena kamarku berada di belakang, pintunya tertutup rapat, dan ada penyejuk udara, jadi aku sulit mendengar suara lain dari luar.

Pelan-pelan aku bangun, berusaha untuk tidak membuat gaduh. Aku berjingkat mencapai pintu. Perlahan kuputar kunci hingga setengah agar tak terdengar suara kunci dibuka. Sudah. Kutarik napas panjang, mendekatkan wajah ke pintu, meraih gagangnya, lalu kubuka sedikit.

Aku mengintip.

“Ya, ada orang di sana! Satu orang!” hatiku teriak-teriak. Jantung rasanya mau lepas.

Orang itu sedang sibuk berusaha mengeluarkan motorku. Motor Honda Kharismaku termasuk besar bodinya. Pasti cukup memakan waktu untuk mengeluarkannya.

Cepat-cepat kututup kembali pintu kamar dengan hati-hati. Kukunci, tapi tak sampai penuh agar tak berbunyi.

Aku menghidupkan lampu kamar. Mencari sesuatu, apa saja yang bisa kujadikan senjata.

“Sapu lidi!” kuraih sapu lidi di atas lemari dengan sedikit lega. “Apalagi, apalagi?” pandanganku ke segala penjuru ruang.

Agak kalut karena cuma mendapatkan sapu lidi, aku duduk di pinggir ranjang dan berpikir, “Apa yang harus aku lakukan? Bisakah aku melawan mereka dengan sapu lidi? Haruskah aku keluar kamar?”

“Harus siap! Aku harus melindungi anak-anakku apa pun yang terjadi nanti! Mereka masih terlalu kecil,” aku menyemangati diri sendiri. Sapu lidi kugenggam erat. Mataku mengingat-ingat jurus-jurus yang diajarkan saat aku masih aktif di pencak silat dulu. Kurasa, walau bagaimana pun kuhapalkan sekarang, yang keluar nantinya pastilah gerakan spontan, yang sudah terlatih dan tersimpan di alam bawah sadar.

“Huhuhuaaaa,” si kecil menangis. Seperti biasa, meminta ASI. Hanya saja saatnya tidak tepat.

Kalau tak segera diberikan ASI, tangisnya akan memancing maling itu. Berbahaya. Tapi kalau kususui, aku jadi tak bisa menghadang kalau penjahat itu masuk ke kamar. Ini juga berbahaya. Serba salah.

“huhuhuaaaa!” Ia menangis lagi. Aku seperti tak punya pilihan lain. Kumatikan lampu. Kuangkat dia, kupangku, lalu kususui sambil berdoa; semoga penjahat itu segera pergi. Aku rela motorku diambil asalkan anakku tidak diganggunya.

“Adek, adek cepat tidur, ya. Ngga boleh nangis, tidur lagi, ya,” kubisiki si bungsu.

Aku mengambil telepon selularku dan menulis sms kepada para tetangga untuk memohon bantuan. Juga meminta agar ditelponkan polisi. Setelah itu, aku missed call mereka, untuk memastikan mereka membaca pesanku.

Setelah kuanggap si bungsu cukup menyusu, dengan tak sabar kutidurkan dia. Sekilas kulihat si sulung, masih nyenyak tidurnya, aku lega.

Aku lalu berjingkat kembali ke pintu, membuka kunci, dan mengintip lagi.

“Ada dua orang!” Dalam cahaya remang, aku sedikit bisa melihat mereka. Tak terlihat apakah mereka membawa senjata. Mereka mondar mandir di dua kamar lainnya. Mungkin sulit menemukan barang berharga di sana. Sedangkan motorku sudah berhasil mereka keluarkan.

Kami memang tak punya banyak barang berharga. Selain motor itu, surat-berharga dan perhiasan kami simpan di kamar tidur kami, kamar ini.

Semoga mereka sudah puas dengan sebuah motor itu dan segera pergi. Aku tak mau mereka sampai menuju ke sini.

“Kalau mereka sampai memasuki kamar ini, aku bisa kalah. Kamar ini tak cukup ruang untuk leluasa mengeluarkan jurus-jurus silat. Tambahan pula, aku membahayakan keselamatan anak-anakku. Aku harus keluar!”

Buru-buru aku mengganti baju tidurku dengan kaos dan celana training. Lalu kuraih kerudung instan dan kupakai cepat.

Sedikit bergetar, kulepas kunci pintu kamar, kupegang dengan tangan kanan. Sapu lidi di tangan kiri.

“Bismillahirrahmanirrahim,” kubuka pintu, lalu aku keluar secepat kilat dan menutup pintu kembali.

Mereka tak ada! Dimana mereka?

Tak berpikir lama, aku langsung mengunci kamar tidur, dan kukantongi kuncinya. Sapu lidi kupindahkan ke tangan kanan, lalu aku langsung menuju ke dapur untuk mengambil pisau besar, segulung tali rafia yang langsung kukantongi, dan kembali ke ruang tengah mencari sakelar lampu.

Klik!
Ruangan langsung terang.

Bak seorang pendekar, aku bersiap di ruang tengah dengan pisau di tangan.

Beberapa detik kemudian, para penjahat itu muncul di hadapanku. Keduanya maju mendekatiku. Mukanya terlihat garang. Tak ada senjata di tangannya.

Kupasang air muka tenang. “Tolong tinggalkan rumah ini,” aku bicara sedatar mungkin. “Kalian boleh ambil motorku tapi kalian harus pergi sekarang. Aku sudah menghubungi polisi,” lanjutku.

Mereka saling berpandangan. Salah satu dari mereka, bertubuh sedikit gemuk, mendengus. Ia tersenyum mengejek. “Mana uangmu?” matanya tajam menatapku. Sementara satu lagi, si kurus, hanya diam saja melihatku.

“Aku tak punya uang. Lihatlah, kami tak ada apa-apa. Kami bukan orang kaya.” aku minta mereka melihat sekeliling, untuk melihat perabotan kami yang biasa saja.

“Mana perhiasanmu, hah?” si gemuk maju selangkah.

Mungkin, ia tak mau rugi setengah-setengah merampok. Atau mungkin juga karena aku telah melihat wajahnya, ia tak mau begitu saja melepasku.

Aku jadi terpancing marah. “Maju selangkah lagi lalu kau akan mati!” kataku. Aku sendiri kaget dengan apa yang keluar dari mulutku.

Sebenarnya aku tak bermaksud menggunakan pisau ini. Aku lebih suka berkelahi dengan tangan kosong, dan aku pernah juara di kejuaraan silat tingkat regional Sumatra semasa SMA dulu. Sedangkan pisau itu, aku menguasainya untuk latihan saja. Dalam hal ini, untuk menakuti lawanku. Mengantisipasi kalau-kalau dia juga bermain senjata. Kalau dia bawa golok, clurit atau pisau, setidaknya masih bisa kulawan. Tapi kalau senjata api? Mungkin aku akan syahid.

“Hahaha.. Ngga usah sok-sokanlah, pegang pisau segala. Nanti malah luka sendiri. Hahahaha,” si gemuk menertawaiku.

“Bunda!” suara si sulung terdengar memanggilku. Dia terbangun mendengar suara si penjahat itu, dan berusaha membuka pintu mencariku.

“Sebentar, Sayang, ada orang jahat di sini. Kamu ngga boleh keluar, okay?” jawabku cepat untuk mencegahnya panik.

Ckrk! Ckrk!
Rupanya si sulung masih berusaha membuka pintu. Tentu saja dia tidak bisa membukanya.

“Kakak, dengar Bunda. Tidak boleh keluar kamar. Di sini ada orang jahat. Kakak tidur sana sama adik!” perintahku lebih keras kali ini.

Untunglah dia menurut.

Melihat situasi yang terkontrol, pisau dapur kutaruh di pojok lantai.

Mulai kupasang kuda-kuda dengan teknik Minang, teknik andalanku untuk separing (tarung bebas) di Perisai Diri (PD). Aku menyukainya karena sangat elegan, dan juga membuatku luwes untuk bergerak menyerang dengan jurus apa saja.

“Tinggalkan tempat ini sekarang!” kuulangi perintahku di awal tadi.

Tanpa menghiraukanku, si gemuk maju dan berusaha menangkap tanganku. Aku langsung mengganjal badannya dengan tendangan T (tendangan samping) kanan yang keras, hingga badannya terhuyung ke belakang. Cukup puas, aku tersenyum, lalu kembali memasang bukaan Minang ke arah kiri.

Si gemuk geram, lalu mencoba memukulku, tapi kumasukkan ia dalam penjuruku, kutendang sekuatnya dengan tendangan sabit kiri (kaki kiri menendang seperti sabit ke arah kanan), disambung pukulan pendeta (dua tangan ke depan), kudorong lagi dengan tendangan gejlig (tendangan lurus ke depan dalam PD), pukulan pendeta kanan (pukulan ke depan dengan tangan kanan), pendeta kiri (pukulan ke depan dengan tangan kiri), lalu dorong lagi dengan gejlig kanan.

Jebret! Jebret! Jebret!
Badan si gemuk sudah terdorong jauh ke belakang. Ia meringis, memegangi dada dan perutnya yang sudah kujadikan samsak. Ia kaget, mungkin sama sekali tak menyangka perempuan berjilbab di hadapannya bisa membuat dia terdorong mundur dan kesakitan.

Seperti kesetanan, aku tak mau memberinya jeda. Kembali kudobrak dia dengan tendangan gejlig kanan. Dug! Ketika akan kusambung dengan pukulan pendeta, dia terjatuh, kehilangan keseimbangan.

Bruk!
Temannya, si kurus, menghampiri si gemuk, sambil menatapku. Entah dengan pandangan apa, aku tak peduli. Yang kuinginkan hanya menghajarnya.

Kupasang kuda-kuda lagi. Bersiap untuk menghadapi si kurus. Si kurus ini lebih tinggi sedikit daripada si gemuk. Kurasa juga sedikit lebih tinggi daripadaku. Aku harus lebih berhati-hati dengannya karena jangkauannya lebih panjang.

Zing!
Ternyata si kurus mengeluarkan pisau lipat, dan bergerak perlahan mendekatiku dengan senyum jeleknya. Sedangkan si gemuk beranjak menjauh, memberi kesempatan untuk si kurus menanganiku.

“Mati aku!” aku mulai panik.

This entry was posted in Fiksi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.