Perampokan Mencekam (2)

Aku mundur ke pojok, mengambil pisau yang kusiapkan tadi, lalu bergegas maju dan memasang kuda-kuda. Kali ini dengan Teknik Putri. Sikap siap dari teknik ini menghadap ke depan, dengan menutup bagian dada dan perut, sedangkan kaki rapat, siap menyerang.

Si kurus menghujamkan pisau lipatnya ke dadaku dengan tangan kanannya, cepat sekali. Beruntung, aku dapat menolak tangannya dengan teknik Putri Berhias, sambil menghindar keluar penjurunya, dan kugoreskan pisauku ke punggungnya dengan teknik Garuda.

Sret!
Bajunya robek. Kulit punggungnya tergores sedikit. Aku deg-degan sekali. Aku tak ingin membunuh orang, jangan sampai. Tapi aku takut tak punya pilihan. Apalagi, saat ini aku sedang bergerak spontan. Benar-benar reflekku yang keluar.

Posisiku saat ini menguntungkan, karena lawan sedang membelakangiku, rapat malah. Aku bebas menyerangnya, apalagi dengan pisau di tanganku.

“Diam! Atau kutusuk Kau!” kutusukkan ujung pisauku ke punggung belakangnya, agar ia tahu pisauku mengarah ke punggungnya.

Ia berusaha bergerak menoleh kanan-kiri.

“Diiiam!!” sekali lagi kutusukkan ujung pisau itu sedikit lebih dalam untuk memberi tahunya, aku tidak main-main.

“Jatuhkan pisaumu!” perintahku. “Cepat!”

Klontang!
Pisau itu jatuh. Hati-hati, kuraba pisau itu dengan kaki, lalu kutendang jauh-jauh ke arah kamarku.

“Apalagi? Apa yang harus kulakukan?” aku bingung. Belum pernah aku berada di situasi ini.

Sedikit nyeri kurasakan di area dadaku. Sepertinya aku terkena goresan pisau si kurus. “Ah, mudah-mudahan tidak apa-apa.”

Kukeluarkan tali rafia dari kantong celanaku.

“Ikat temanmu! Lalu ikat tanganmu sendiri!” kulemarkan tali itu ke lantai, tetap dengan pisau yang siap menghunus punggungnya, kusuruh si kurus mengikat tangan temannya. “Cepat!” kusundulkan lagi pisau itu ke punggungnya tak sabaran.

Segera diikatnya tangan si gemuk, kemudian tangannya sendiri. Sepertinya mereka pasrah dengan apa pun yang akan kulakukan terhadap mereka.

Kutelpon tetangga sebelah rumah, kuberitahu bahwa situasi sudah aman. Tak lama para tetangga dan polisi datang. Kuserahkan para penjahat itu. Alhamdulillah, barang-barang kami masih ditakdirkan milik kami, dan kami masih diberikan kesehatan dan keselamatan oleh Allah.

Aku masuk ke dalam kamar dan memeluk anak-anakku.

***

“Begitu, Ayah, ceritanya,” senyumku mengembang puas. Kuperhatikan suamiku, matanya sudah terpejam.

Aku protes, “Ayah, gimana ceritanya kalau begitu? Serem ‘kan?”

Tak ada sahutan.

Gimana sih ini, diajak diskusi, kok malah tidur?” aku gonyangkan badan suamiku, membangunkannya.

“Apaan sih, Bun, sudah malam nih, ngantuk,” suamiku memutar badannya membelakangiku.

“Lho, Ayah, pasang alarm dong, ntar kalau penjahat datang kayak di cerita tadi gimana? Beliin ya? Biar dia mikir, ngga berani masuk rumah? Ya, Yah? CCTV sekalian, Yah. Ya, Yah? Yah?”

Jurus rayuanku gagal. Dan suamiku tetap tidur meninggalkanku yang keki sendiri.

_SELESAI_

This entry was posted in Fiksi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.