Ayah; sepenggal kisah tentangnya

Air matamu menetes tak lama setelah musik itu mengalun syahdu. “Tak Lelo Lelo Lelo Ledung”, lagu yang kau pesan kepada grup campursari itu, meruntuhkan wajah tegangmu di pelaminan, membuatmu seolah menjadi ayah paling sedih di dunia. Tetamu menatap kalian penuh haru, karena ternyata air mata putrimu juga mengalir tak henti, sehingga membutuhkan banyak tisu untuk mengeringkannya.

Pikiranmu melayang, teringat masa kecil sang putri yang baru saja lahir. Ia sungguh montok dan suka sekali mengompol — bahkan rasa gatal yang dibuat air kencingnya ketika kalian bepergian menuju kampung halaman dengan menggunakan bus yang harus ditempuh selama tiga hari, masih terasa dipahamu — tapi saat ini dia sudah menikah dan bersiap untuk meninggalkanmu. Hal yang sulit dipercaya. Putri kecilmu telah dewasa.

Ya, kau, lelaki penuh wibawa yang tak pernah sekali pun memperlihatkan kelemahan, tersedu tak berdaya di pesta itu. Tak mengapa, pikirmu, hanya sekali saja seperti ini, menunjukkan hal memalukan di depan orang-orang. Biarlah, hatimu meleleh, menghadirkan sisi lain di depan putrimu, hanya untuk mengatakan aku sayang padamu dari lubuk yang paling dalam. Sekali ini saja.

Setelah pesta yang melelahkan itu usai, kau kembali kepadamu yang dulu. Kau yang tegar, kau yang kaku dan berwibawa, kau yang menjadi bahu untuk keluargamu. Itulah dirimu.

Depok, 23 April 2014

PS. Belajar menulis dengan POV 2 untuk kelas latihan menulis di Kobimo bersama Kak WN Rahman🙂

This entry was posted in Dunia Menulis and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s