Chickenpox Attack! Ketika Cacar Air Menyerang (1)

imageTak butuh waktu lama bagiku mencurigai adanya penyakit yang beberapa saat lalu kami waspadai, menghinggapi tubuh suami ketika ia pulang kerja dan melaporkan ada beberapa ruam yang menyembul di lengannya — salah satu dari ruam-ruam itu sudah dipencetnya laksana jerawat — disertai rasa lemas yang menyergap. Awalnya suami yang dengan polosnya berkata, “Sepertinya ayah kena cacar, Bun,” ingin cepat-cepat kusanggah karena itu adalah joke paling tidak lucu. Akan tetapi begitu ia menunjukkan ruam-ruam itu — tak ada demam, hanya terlihat dua buah bintil ruam seperti lepuhan merah — aku menyerah.

Ingatanku melayang ke 2-3 minggu yang lalu dimana kami memang kontak dengan pasien cacar. Tak boleh menunggu lagi, suamiku harus ke rumah sakit secepatnya.

Ia pergi sendiri, meninggalkanku yang langsung menyiapkan sebuah kamar dan anak-anak yang asyik bermain. Pastinya, pikiranku berkecamuk menghadapi kemungkinan adanya penyakit itu dalam tubuh suami. 

Cacar air adalah penyakit yang mudah menular. Tidak hanya dari pecahnya bintik ruam, tapi juga dari droplet bersin atau batuk penderita, dan juga udara yang dikeluarkan penderita. Anggap saja, udara tempat penderita berada telah tercemar virus. Karantina harus dilakukan agar virusnya tidak mengenai orang lain lagi. Aku menempatkannya di kamar depan, dimana ada sebuah single bed, sebuah lemari baju, dan jendela yang cukup lebar sehingga dapat memuat cahaya matahari yang banyak. Aku juga mengganti semua seprai beserta sarung bantal-gulingnya, lalu menyiapkan handuk baru.

Berulang kali si sulung (3,5 th) bertanya, “Ayah kemana? Kenapa kakak tidak boleh ikut?”

Kucoba jelaskan bahwa ayahnya sedang sakit dan perlu periksa ke dokter. Meskipun setelah itu ia berulang kali mengulang pertanyaannya seperti karakter Dori di film Finding Nemo, akhirnya dia mengerti. Atau lebih tepatnya berusaha mngerti dan diam melihat bundanya sudah mulai bete dengan pertanyaan berulangnya itu.

Akhirnya suami yang dinanti pun datang. Ia bilang bahwa ia masih suspek dan observasi dalam dua hari ini. Ia juga membawa empat macam obat dari RS. Antivirus acyclovir, analgesik, suplemen vitamin, dan bedak salicyl.

Aku lalu memberinya sebuah masker untuk dikenakannya setiap keluar dari kamar karantinanya.

Iya, aku memang tegang. Di rumah ini kami hanya berjuang sendiri. Ada dua orang balita dan bundanya yang juga bisa ikut sakit kalau hal ini tidak dirawat dengan baik. Anak-anak sakit, oh tidak jangan sampai. Walaupun mereka sudah kubekali dengan vaksin varicella, bukan berarti mereka bebas 100%. Mereka tetap bisa terkena, tetapi dengan efek yang lebih rendah. Namun bagaimana pun, aku sungguh tak tega melihat anak-anak sakit. Sementara kalau bundanya sakit, siapa yang akan merawat anak-anak? Tak boleh lagi jatuh korban. Cukup sang ayah saja.

Kemudian, si sulung pun memulai pertanyaan-pertanyaannya, “bunda, kenapa ayah tidur di sana? Kenapa ayah tidak tidur bersama kita? Kakak mau tidur sama ayah.”

Setelah beberapa kali menjelaskan akhirnya ia mengerti bahwa ayahnya sakit dan ia tak boleh mendekat hingga akhirnya ayahnya dinyatakan sembuh.

Si sulung memang sangat dekat dengan ayahnya. Sayang sekali hal ini terpaksa menjauhkan mereka. Bila positif cacar air, bukan hanya 1-2 hari akan sembuh, tapi bisa seminggu lebih hingga semua lepuhan mengering. Begitulah perjalanan penyakitnya.

Baiklah, saatnya menutup hari ini. Semoga hari-hari segera berlalu dan suamiku segera sembuh total. Aamiin.

– – – – –

Related article:
Chickenpox Attack! Ketika Cacar Air Menyerang (2) https://geasy.wordpress.com/2014/06/05/chickenpox-attack-ketika-cacar-air-menyerang-2/#more-1954

This entry was posted in me as a mom, My Room and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Chickenpox Attack! Ketika Cacar Air Menyerang (1)

  1. susiloharjo says:

    Aamiin skrg sudah mulai kering, semoga kalian ngga kena ya, harus ekstra waspada dan jaga kesehatan setidak2nya sampai sebulan kedepan ngga boleh sakit karena rentan kena cacar

  2. Alhamdulillah udah mulai kering🙂 Iya ayah.. Kalau gitu ga usah kemana-mana 2-3 minggu ke depan ya.. (kan masa inkubasi tuh)

    Ngga usah ngemol, ngga usah ke bonbin, keluarnya makan di resto aja kita.. Hihihi..😉

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s