Satu untuk Selamanya

image Saya selalu senang mendapatkan undangan pernikahan. Meskipun tak bisa hadir, tapi saya kirimkan doa untuk mereka, “Barakallahu laka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fi khoir..”

Saya terbayang wajah setan. Pasti setan-setan pada belingsatan, berusaha menggagalkan pernikahan itu dengan cara apa pun. Makanya, calon pengantin biasanya berantem. Adaaa aja masalahnya. Padahal saat pacaran, para setan merayu sedemikian rupa agar berkhalwat itu menjadi hal paling indah di mata sepasang anak manusia. Dan ketika mereka meneguhkan hati untuk melangkah ke jenjang pernikahan, para setan pun kelabakan, sibuk bikin rusuh. Eh, setelah menikah, setan-setan pun berusaha agar suami istri bercerai — apalah maunya setan ini?

Banyak pengantin baru yang membayangkan menikah itu seperti ending dalam cerita dongeng putri-putrian: happily ever after. Kenyataannya? Jauh!

Menikah itu gampang. Ijab kabul, walimah, selesai. Mempertahankannya itu yang susah.

Perbedaan latar belakang (keilmuan, budaya, pola didikan, dll) antara suami istri pasti akan menimbulkan konflik dalam kapal rumah tangga. Nahkodanya harus satu orang, dan pasti berantakan ketika nahkodanya dua kepala. Inilah pentingnya visi misi, yaitu bagaimana caranya kapal itu akan berlayar menuju suatu tempat akhir yang disebut surga. Tujuan akhir inilah yang perlu diingat baik-baik.

Masa-masa awal pernikahan sering dikatakan sebagai masa pengenalan, dimana suami istri banyak bertengkar karena masih belum mengenal dengan baik satu sama lain. Sementara masa-masa berikutnya mereka akan bertengkar juga, tapi karena sudah mengenal watak masing-masing😀

Seorang psikolog — yang saya lupa namanya (maaf) — mengatakan, “Suatu hubungan akan terus berjalan apabila antara keduanya berusaha untuk saling mencocokkan diri.”

Sudah sering saya dengar konflik yang lazim dalam setiap rumah tangga: suami yang terlalu cuek atau istri yang terlalu bossy. Itu masalah klasik. Hampir semua rumah tangga mengalaminya. Seorang istri hanya ingin disayang, dan seorang suami hanya ingin dihormati.

Memang gampang mengatakannya. Tapi tak jarang pasangan muda yang bercerai hanya karena ketidakcocokan yang salah satu wujudnya seperti yang saya sebutkan tadi.

Saya juga mengalami konflik di atas. Kalau sedang lemah iman, bisa jadi besar masalahnya — atau lebih tepatnya dibesar-besarkan.

Tapi kemudian saya membaca komentar seorang ibu yang sudah cukup lama berumah tangga. Katanya, “Asalkan suami ngga selingkuh, ngga judi, ngga doyan mabuk, ngga KDRT, masih menafkahi, jangan sampailah cerai”.

Ada juga istri-istri lain yang suami-suaminya hobi pacaran sana-sini — bahkan punya cem-ceman dan mereka tahu itu — tetapi mereka masih mempertahankan rumah tangga dengan pasrah berkata, “Biarin deh isinya tumpah kemana-mana asalkan botolnya pulang” — astaghfirullah teganya para lelaki itu😦

Dan sebagian ibu-ibu yang lain berprinsip: “Kalau di rumah, dia suami kita; kalau di luar rumah, dia bukan suami kita,” sehingga mereka pun lebih berbesar hati — sungguh mulianya dirimu wahai para ibu.

Oleh karena itu, saya menyadari, bahwa masalah saya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Kasihan anak-anak kalau ayah bundanya bertengkar, rumah pasti terasa tidak nyaman. Apalagi kalau sampai bercerai — amit-amit semoga jangan sampai terjadi.

Satu kalimat lagi yang saya ingat terkait pernikahan. Bahwa, “Orang menikah berpuluh-puluh tahun itu bukan karena kecocokan, tapi karena saling maklum.”

Bahwa sampai kapan pun perbedaan antara suami istri itu pasti akan ada. Tergantung kepada yang melakoni. Mau saling memaklumi atau tidak?

Untuk kalian yang akan menikah dan yang baru menikah, saya doakan semoga kalian langgeng. Satu untuk selamanya!🙂

Untuk para istri / suami yang sedang berjuang mempertahankan pernikahannya, saya sungguh bersimpati kepada kalian. Saya doakan semoga Allah memberi kemudahan untuk setiap permasalah kalian. Semoga keluarga kita semua tetap utuh. Aamiin..

Untuk suamiku, “Ayah, maafin bunda ya.. T_T”

This entry was posted in My Room and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Satu untuk Selamanya

  1. susiloharjo says:

    Lain kali kalau kumat tak kirimin postingan ini ya🙂 maafkan ayah juga ya, i’m far from perfect too, tapi ayah sdh berjanji kepada Allah untuk menjaga janji ini sampai akhir hayat Insya Allah

  2. Sebenarnya bun udah ngerti teorinya, Yah.. Tapi prakteknya memang susah.. Aamiin, dan semoga bun juga bisa jaga komitmen ini sampai akhir hayat

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s