Saya Ingin Kuliah di UGM; Kata-kata yang Menjadi Nyata

Gedung Pusat UGM

Gedung Pusat UGM

Masih teringat jelas di pikiran saya bagaimana awal mula saya ingin menuntut ilmu di suatu institusi pendidikan terkemuka di negeri ini, Universitas Gadjah Mada. Semuanya dimulai dari sebuah mimpi.

Pada suatu siang yang cukup bersahabat, saya, yang waktu itu kelas IV SD, untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah teman sekelas saya, Tata. Ia tinggal di perumahan kelas I untuk karyawan perusahaan tempat ayah kami bekerja. Rumahnya besar dan luas dibandingkan rumah saya yang waktu itu di kelas III. Papan nama di depan rumahnya menunjukkan bahwa nama depan ayahnya, ternyata sama dengan nama depan ayah saya. Dan yang cukup mengejutkan, setelah bertanya, nama depan ibunya juga sama dengan nama depan ibu saya. Saya langsung merasa akrab dengannya. Apalagi, Tata adalah orang yang sangat ramah. Saya langsung diajak masuk ke dalam kamarnya.

Di perjalanan menuju kamarnya, ketika sampai di ruang tengah, mata saya tertuju pada suatu pajangan di dinding depan TV-nya. Sesuatu yang saya hanya pernah lihat di TV, koran, atau majalah. Sebuah samir yang cantik dan tabung hitam, yang ditaruh dalam bingkai kaca. Dengan lugunya saya pun bertanya, “Itu apa, Mbak?”

“Itu samirnya Bapak, pas lulus dari UGM,” jawabnya. Saya amati. Samir itu ada lambang UGM-nya di tengahnya, dan saya terpukau. Samir tanda kelulusan dari universitas? Pantas saja benda seperti itu tak ada di rumah saya. Ayah dan ibu saya adalah lulusan SMA dan sederajat. “Ama besok mau kuliah di mana?” Tata bertanya.

Pertanyaannya membuat saya tersentak. Meskipun bapak dan ibu saya tak sampai jenjang kuliah, tapi saya ingin kuliah. “Di UGM,” saya menjawab spontan. “Mbak Tata mau kuliah dimana?”

“Di UGM juga,” jawabnya singkat. Saya pun tersenyum.

Saya ingin kuliah di UGM. Hal besar buat saya saat itu. Seperti bermimpi. UGM adalah satu-satunya universitas yang saya tahu (waktu itu) dan saya ingin kuliah di sana! Pikiran saya sekilas menerawang tentang bagaimana saya nantinya akan bisa berkuliah di institusi pendidikan yang ternama itu. Prestasi belajar saya biasa saja, tak masuk 10 besar. Di sisi lain, Jogja itu jauh — saya belum pernah ke Jogja, tempat universitas itu berdiri; juga tak punya sanak saudara yang tinggal di sana, dan orang tua saya sedang berusaha untuk membangun kebun karetnya. Semua anggota keluarga harus berhemat saat itu.

Akan tetapi, momen singkat itu telah merasuk ke dalam pikiran alam bawah sadar saya, bahwa saya akan berkuliah di UGM suatu saat nanti. Sejak itu, saya belajar lebih giat.

Saya tinggal di sebuah kota kecil di tengah hutan Riau. Kota itu bernama Duri. Butuh 3 jam perjalanan untuk mencapai Pekanbaru. Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan tambang. Di sini, sekolah untuk putra-putri karyawan telah disediakan, dari TK hingga SMA. Lingkaran pertemanan anak-anak biasanya sama, dari kecil hingga remaja.

Akan tetapi, setelah sekelas di kelas IV, saya dan Tata terpisah di kelas-kelas berikutnya, dan kemudian terpisah jauh karena Tata harus ikut ayahnya yang pindah  dinas ke kota lain. Life must go on. Begitulah, kita akan berusaha untuk berteman dengan anak-anak yang lain. Di SMP dan SMA, alhamdulillah saya pun menunjukkan bahwa saya mampu secara akademik.

Ketika saya duduk di kelas II SMA, saya mengikuti les privat bahasa Inggris bersama beberapa orang teman. Di kelas III SMA, saya mengikuti bimbingan belajar di sekolah pada siang sepulang sekolah hingga sore hari. Malamnya pun mengikuti bimbingan belajar dari kakak-kakak karyawan perusahaan tempat bapak saya bekerja dengan menggunakan modul dari Nurul Fikri. Benar-benar perjuangan berat, dalam mempersiapkan diri agar bisa diterima di universitas unggulan.

Hingga tiba saatnya, ada peluang untuk mengikuti UM UGM. Saya antusias sekali mengisi formulirnya sambil berdoa, semoga saya bisa kerjakan ujiannya dengan baik dan lolos masuk di UGM. Tentu, saya sudah mengetahui bahwa banyak universitas-universitas yang tak kalah berkualitas di luar sana, tetapi keinginan saya untuk berkuliah di UGM masih terpatri kuat.

Saya mengikuti UM UGM secara kolektif di Pekanbaru tahun 2013. Bersama teman-teman seangkatan dan beberapa orang guru yang mendampingi, kami berangkat dengan beberapa bus dari perusahaan, menginap di Rumbai, di beberapa rumah yang juga disediakan perusahaan, lalu selama 2 hari mengikuti ujian yang diselenggarakan sebuah di stadion di Pekanbaru.

Alhamdulillah, saya bersama banyak teman saya lolos ujian itu. Kami diterima di UGM. Alhamdulillah pula, karir bapak saya semakin naik, dan kebun sawitnya pun telah mulai menghasilkan — kebun karet yang dulu telah ditinggalkannya. Satu hal lagi, alhamdulillah, saya mendapatkan scholastic award, beasiswa  4 tahun dari perusahaan tempat bapak saya bekerja. Sungguh merupakan anugrah dari Allah.

Di hari pertama orientasi kampus di Fakultas, saya kaget sekali bertemu dengan teman lama saya, Tata. Ternyata, ia juga masuk UGM dan kami di Fakultas yang sama, Fakultas Kedokteran. Tata mengambil jurusan Ilmu keperawatan, sedangkan saya, Gizi Kesehatan. Kami tertawa haru saat mengenang masa dulu ketika kami berazzam akan masuk UGM.

Hati-hati dengan perkataanmu karena kata-kata adalah mantra, ia bisa menjadi nyata.

Kini kami telah lulus. Tata menjadi Nurse (gelar profesi perawat) dan saya menjadi Dietisien (gelar profesi ahli gizi). Hanya saja, Tata mengabdi bagi masyarakat di Jogja, sementara saya mengabdi untuk keluarga saya🙂

When there is a will, there is a way.

————–selesai—————–

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Mbak Tata, Martha Mutiarani, dan keluarga, terutama kepada Bapak Bambang Marsono, yang telah memberi inspirasi saya hingga akhirnya saya mempunyai mimpi yang kuat. Saya sangat menghormati Bapak.

Terima kasih kepada keluarga saya, terutama Bapak dan Ibu saya, yang telah memberi semangat dan dorongan, serta dukungan finansial dan doa. Tanpa itu semua, saya tidak akan bisa membuat kalian bangga, kuliah di tempat prestisius seperti UGM, dan lulus dari sana.

Terima kasih kepada PT CPI, yang menyediakan sekolah-sekolah berkualitas dari Yayasan Pendidikan Cendana, mendukung kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sana — saya mengikuti Pramuka dan Perisai Diri — sehingga bisa mengikuti event-event di luar kota, sampai luar negeri. Terima kasih telah memilih saya untuk menerima beasiswa Caltex Scholastic Award yang hanya diberikan kepada 25 orang terpilih dari putra-putri karyawan dan bussisness partners, serta dukungan-dukungan lain yang amat banyak saya terima. Terima kasih.

Terima kasih kepada seluruh guru-guru di Yayasan Pendidikan Cendana Duri, dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Saya bisa membaca, berhitung, menulis, dan mengembangkan kemampuan akademik lainnya karena Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru. Jasa-jasa kalian tak akan saya lupakan.

Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan kebaikan yang banyak. Aamiin..

 

sumber foto di sini

This entry was posted in Dunia Menulis, My Room and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Saya Ingin Kuliah di UGM; Kata-kata yang Menjadi Nyata

  1. susiloharjo says:

    Mimpi, doa, ikhtiar, dan jadi kenyataan, sesuatu yang sepertinya gampang, namun penuh perjuangan, dan pesan moral lainnya adalah jangan takut bermimpi, mari bermimpi, berdoa dan ikhtiar yang kuat semoga mimpi kita jadi kenyataan

  2. yeah… mari bermimpi!🙂
    BTW, kuliah di UGM, secara tak langsung mempertemukan aku dengan belahan jiwaku..
    #eaaa..😀

  3. Aliensyiroh says:

    eaaaaaaaaaa,,,,eaaaaaa :D:D😀

  4. Hahahaha…
    kalo kamu gimana ceritanya, Ziz?😀

  5. Aliensyiroh says:

    xixixi, ceritanya belum kelar kakaak😀

  6. semoga cepat kelar deh kalo gitu..😀

  7. semoga aku bisa masuk FK gizi kesehatan UGM tahun 2015 ya Allah aamiin….

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s