Mendoakannya agar Benar-benar Bertobat

Dear friends, beberapa bulan ini ada yang mengganggu pikiranku. Memang aku telah usai menghadapi masalah yang cukup pelik, tetapi aku belum bisa move on darinya. Makanya aku memutuskan untuk menuliskannya saja, semoga menjadi pelajaran untuk teman-teman juga.

***

Friends, aku dekat dengan seseorang. Aku sungguh percaya padanya, bahwa dia adalah orang yang baik, yang peduli pada anak-anaknya, suaminya, masa tua orang tuanya, saudara-saudarinya, bahkan keponakan-keponakannya. Kami sering telponan, curhat, bahkan saat dia kangen aku, aku bisa mimpiin dia, lalu siangnya tiba-tiba dia menelponku! Iya, sedekat itu, Friends. Sangat indah. Tapi, suatu ketika Allah menunjukkan kepada kami tentang siapa dia di belakang kami. Aku sungguh tak menyangka dengan perbuatan yang dia lakukan. Aku tak bisa tak percaya, bahwa aku merasa dibohongi.

Friends, berkat dia aku menemukan definisi orang kejam yang baru; orang kejam adalah orang yang sudah pernah merasakan pahitnya dikhianati oleh suami, tetapi melakukannya kepada wanita lain, yang adalah saudari kandungnya sendiri!

Timeline-nya menunjukkan bahwa itu telah berlangsung lama, sehingga aku tak bisa membiarkannya berlangsung lebih lama lagi.

Kemudian aku menegurnya secara tak langsung karena aku menjalankan kewajibanku sebagai sesama muslim, yaitu amar ma’ruf nahi mungkar. Aku tak bisa membiarkan kemungkaran terjadi di depan mataku. Karena aku bisa berbuat yang lebih daripada selemah-lemahnya iman, jadi aku mencegah kemungkaran dengan tanganku, untuk menegurnya. Agar dia kembali ke jalan yang lurus. Agar dia tahu bahwa ada orang-orang yang telah mengetahui perbuatan dzholimnya, selain Allah Yang Maha Tahu. Agar dia merasa malu akan dosanya, sebagai bukti bahwa masih ada iman di dalam dadanya. Bahwa ada orang-orang yang tersakiti karena perbuatannya, dan itu adalah resiko dari langkah yang diambilnya dahulu.

Kuakui bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang yang ia sakiti, tetapi ketahuilah, bahwa aku sedapat mungkin bersikap netral. Mencoba untuk tak menyerangnya secara personal, memakinya, menghakiminya, karena setiap orang pasti pernah berbuat khilaf. Aku juga tak menyebarkan aibnya dengan maksud mempermalukannya, karena setelah teguran itu ia telah meminta maaf dan berjanji bertobat kepada saudarinya itu. Intinya aku mencoba untuk mengikhlaskan kesalahannya. Hanya saja ia harus tahu dan harus menerima, bahwa kepercayaan itu mahal harganya dan keadaan akan sulit untuk bisa kembali seperti semula lagi.

Friends, selepas ini bila ia ingin mengulangi perbuatannya lagi, aku persilakan. Sudah lepas kewajibanku mengingatkannya. Artinya kali ini kami tak akan ikut campur lagi dengan masalahnya, itu sudah menjadi urusannya dengan Tuhan-nya. Namun semoga dia ingat, bahwa azab Allah itu pasti. Kita semua nggak tahu kapan akan dipanggil oleh Allah. Kita hanya bisa berbuat sebaik mungkin dan berharap kasih Allah agar ketika kita meninggal, kita bisa pergi dalam keadaan syahid.

Semoga ia benar-benar bertobat dengan tobat nasuha ya, friends. Aamiin..

This entry was posted in My Room and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s