Tiga Detik

Saya terhenyak. Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi membuat saya berpikir hingga beberapa jam setelahnya. Tak mudah terlupakan begitu saja.

Ceritanya begini, ketika saya bersama keluarga sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, terlihat di tepi jalan, seorang ibu muda yang sedang mengangkat anak bayinya tinggi-tinggi, kemudian mereka berputar bersama. Awalnya, ekspresi ibu muda itu begitu terlihat seperti menahan sakit ketika mengangkat anak itu — mungkin karena saking beratnya si bayi, sedangkan badan ibunya kurus —  dan setelah anak itu berhasil terangkat dan dia berputar, tampaklah ekspresi si bayi perempuan itu. Ia tertawa lebar! Sangat lebar sehingga membuat saya merasa perjalanan saya seperti berhenti di titik itu. Saya seperti melihat tawa lebar yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Tawanya begitu lebar dan tulus. Tawa seorang bayi perempuan yang sangat bahagia.

Saya yakin, ibunya pasti merasa sangat bahagia pula ketika melihat tawa itu. Ia pasti merasakan hal yang lebih daripada yang saya rasakan ketika melihatnya.

Saya pikir, itulah perjuangan seorang ibu membuat anaknya senang. Mungkin, mengangkat anak bayi yang montok adalah hal yang cukup berat buat seorang ibu yang badannya kurus. Dan lihat saja, jalan itu ditempuhnya demi melihat tawa lebar anaknya. Itu kesimpulan saya saat itu, tetapi hal itu masih menyisakan perasaan yang aneh dalam pikiran saya.

Setelah berjam-jam berlalu, saya mendapat jawaban dari rasa penasaran saya.

Bagi seorang bayi, bahagia itu sederhana. Sangat sederhana. Hanya dengan diangkat tinggi-tinggi oleh ibunya, maka ia merasa seluruh dunia ini adalah miliknya. Sedangkan ibunya? Seorang ibu pasti ingin melihat anaknya bahagia. Ia tentu senang melihat senyum tawa anaknya, tentu juga bangga telah membuat anaknya senang. Dibalik semua kesusahan, kepayahan, rasa sakit, rasa sepi, dan rasa apa pun itu yang dilalui ketika mengasuh si bayi, tentu dunianya serasa berhenti berputar sejenak saat itu, ketika melihat bayinya tertawa. Dan tak ada apa pun di dunia ini yang mampu membeli rasa bahagia itu.

Dan saya?

Saya telah melalui rasa-rasa itu. Anak-anak saya sudah bukan bayi lagi, mereka masih Balita, tetapi peristiwa tadi membuat saya merasa kehilangan perasaan bahagia dari melihat tawa seorang bayi. Saya merasa hambar.

Apakah saya menginginkan seorang bayi lagi? Tidak, saya rasa bukan itu. Hanya saja, hal itu membuat saya berusaha mengingat, kapan saya terakhir membuat anak-anak saya tertawa selebar dan setulus itu?

Sekelebat bayangan anak-anak saya pun hadir.

Oh tidak, jangan-jangan saya terlalu asyik dengan pekerjaan saya dan berkutat dengan diri saya sehingga mengabaikan ekspresi dan perasaan anak-anak saya? Mereka sering tertawa lebar sepolos dan setulus itu, tetapi saya yang tak menyadarinya.

Saya merasa kurang bersyukur.

Anak-anak saya, mereka selalu di sini, di dekat saya. Mereka selalu tertawa lepas, dan suka tertawa bersama saya. Mereka suka membuat saya senang, mereka suka memberi saya senyuman-senyuman yang manis. Tapi rupanya hati saya terlalu dingin selama ini.

Ah Nak, Maafkan Bunda. :’)  Bunda senang melihat tawamu.. Bunda benar-benar senang! Bunda menyukainya melebihi Bunda melihat tawa bayi tadi. Dan Bunda akan berusaha membuatmu selalu tersenyum, tertawa, dengan tulus. Bunda akan berusaha selalu membuatmu bahagia, Nak. Buat Bunda sekarang, tak ada yang lebih berarti daripada melihat senyum dan tawamu. Bahkan tawa bayi yang Bunda lihat di jalan selama 3 detik tadi.

Depok, 28 September 2014

IMG_20140928_093108

 

This entry was posted in Dunia Menulis, Life oh life!, me as a mom, My Room and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tiga Detik

  1. nengira says:

    nice story.. like this bund. alhamdulillah banyak cara yang Alloh tunjukkan untuk menajamkan kembali indra ya bund. jadi bahan renungan saya juga.. thanx bund.

  2. “Cara Allah untuk menajamkan indra.” Setuju, Umi🙂
    Sama-sama ya, Umi.. Semoga kita bisa selalu saling sharing🙂

  3. susiloharjo says:

    Dan bagian terindah seorang Bapak adalah ketika melihat Istri dan anak2nya tersenyum🙂

  4. baiklah.. tapi istri juga senang loh liat senyuman suaminya🙂

Kasih komen dong

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s