My 33rd Birthday

Menjelang hari ulang tahunku besok, yang terpikirkan olehku, hari kematianku semakin dekat, apa bekalku?

Menyadari diri ini banyak kurangnya, dan harga diri kadang menahanku untuk meminta maaf duluan.

Yang baru dariku, di tahun ini, aku mulai berani belajar dauroh janaiz. Bahkan menjadi model mayatnya saat praktik di liqoku. Ya awalnya pengen ga hadir sih di kajian dauroh janaiz itu. Alasannya, takut! Belum siap mati, belum siap menghadapi kalau ada seseorang yang dekat denganku meninggal, dan takut mewek selama acara. Tapi kupikir aku butuh ilmu ini, jadi aku datang dan beneran banyak dapat ilmu baru, alhamdulillah.

Nah, pas praktik dauroh janaiz dilakukan secara mandiri di liqoku, kami membutuhkan sukarelawan model jenazah dan nampaknya cuma aku yang berkesempatan. Berhubung aku sudah mendapat teorinya, aku menjadi lebih kuat, jadi yah aku merasa siap aja buat jadi model mayitnya 😀

 

 

Hanya saja ketika kain kafan itu mulai menutupi seluruh tubuhku, terutama bagian mukaku, ada rasa yang berbeda menjalar di hatiku. Saat itu aku merasa lebih dekat dengan kematian, dan spontan banyak-banyak berdoa. Ah, seperti ini rasanya dikafani — katanya mayat itu bisa merasakan dan mendengar; hanya tidak bisa bergerak. Kain kafan rasanya nyaman juga ya, ga sesak napas, ga engap. Eh, mungkin karena mukaku cuma ditutupi kafan aja, tidak kapasnya juga, hehehe. Jadi pas jadi mayat nanti tentu rasanya berbeda (pikiranku kemana ini :p).

Akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu membaca Al-Qur’an. Pikirku, di alam kubur nanti, aku ngga bisa baca Qur’an lagi. Di Padang Mahsyar apalagi. Jadi jalan satu-satunya berharap syafaat dari Al-Qur’an, adalah saat ini. Tambahan pula, ini bulan Ramadhan; kalau aku tidak khatam, suami tidak mau kasih THR khusus buatku. Eh, bukan itu ding alasan utamanya! 😀 Luruskan niat lagi, over and over again 🙂 Di Bulan Ramadhan katanya amalan itu dinilai berlipat ganda sampai 700 kali. Kesempatan emaslah.

Hanya saja suatu ketika waktu aku membaca Al-Qur’an, rasanya ada yang menyindirku, “Percuma baca Al-Qur’an, kalau suami ngga ridho, ngga akan ada gunanya! Tetap aja masuk neraka!”

Oh beratnya jadi istri; di kala suami bikin istri upset, istri kudu tetap sabar dan ga bikin suami upset balik T_T (Rasanya kayak berat banget ya, padahal lebih berat lagi tanggung jawab suami hehe). So, demi meraih surga, istri wajib minta maaf biar suaminya ridho kan.. apa daya kalau harga diri istri setinggi gunung Lawu, dan harga diri suami setinggi puncak Everest, maka rumah tangga bakal terasa dingin. Yah, kita lihat sajalah nanti, semoga saja hati si istri dan suami ini bakal dilunakkan.

Pesanku buat suamiku, kalau aku meninggal duluan, tolong maafkan aku ya.. Ridhoi aku.. Kalau ngga, aku bakal dibakar di neraka dan rasanya pasti luar biasa ngga ada tandingannya, bakal lebih sakit daripada rasa sakit yang paling sakit di dunia. So, please please pleeease forgive me for everthing I have done in the past, and insya Allah I will do the same for you too, Dear. I love you, forever and ever. Semoga kita sekeluarga Allah kumpulkan di jannahnya. Aamiin 🙂 ❤

Advertisements
This entry was posted in My Room and tagged , , . Bookmark the permalink.